Jumat, 12 Maret 2010

Mecer-Ja’Am
Bertarung di Pilkada Ketapang

Pagi itu langit tampak cerah. Mentari pagi bersinar terang. Kota Ketapang kembali ramai dengan segala aktivitas masyarakatnya. Lalu lalang kendaraan di Jl. R. Suprapto terasa menghambarkan sepi sejak pagi. Di depan Aston Ketapang City Hotel telah berkumpul serombongan orang yang terlihat bersiap untuk pergi menghadiri acara deklarasi pasangan A.R Mecer dan Jamhuri Amir. Pukul 8.30, rombongan itu beranjak meninggalkan hotel, melaju dengan menggunakan beberapa buah mobil. Sepuluh menit kemudian, rombongan itu singgah di suatu rumah untuk menemui rombongan orang yang terlihat sudah menanti. Dari rumah tersebut rombongan itu bergabung untuk melanjutkan kembali perjalanan dengan beberapa buah mobil yang terlihat melaju dengan rapi menuju Gedung Pancasila, tempat penyelenggaraan deklarasi.

Pernyataan Diri
Hari itu, Rabu tanggal 10 Februari 2010. Jarum jam menunjuk angka 9.50. Lagu Indonesia Raya dikumandangkan oleh tujuh belas siswa dari SMA Muhammadiyah Ketapang, seakan-akan mengisi sudut-sudut ruangan Gedung Pancasila. Itulah tanda deklarasi dimulai.
Acara deklarasi diawali dengan sambutan dari ketua panitia penyelenggara acara deklarasi, Drs. Issiat Isyak. Menurut Issiat Isyak, pasangan ini merupakan pasangan yang telah teruji integritasnya, baik di tingkat daerah, tingkat nasional maupun internasional. ”Perpaduan pasangan ini merupakan pasangan Kayong asli dengan menggabungkan kebhinekaan dan kemajemukkan masyarakat Kabupaten Ketapang yang pluraristik dengan tidak mengkotak-kotakkan salah satu suku, rasa, atau agama yang berada di Kabupaten Ketapang ini,” ungkap Issyat.
Pada kesempatan itu, Issiat Isyak menyampaikan moto pasangan A.R. Mecer dan Jamhuri Amir, yakni Bekerja Bersama untuk Kabupaten Ketapang Lebih Baik. ”Dalam kesempatan ini juga kami sampaikan moto pasangan ini dalam memimpin Kabupaten Ketapang ke depan yang sama-sama kita cintai ini, yaitu Bekerja Bersama untuk Kabupaten Ketapang Lebih Baik,” kata Issiat. Issiat juga menjelaskan makna yang terkandung dari motto tersebut. ”Dengan moto yang sangat jelas dan mengandung makna yang sangat dalam kami ingin menyampaikan pesan kepada semua masyarakat Kabupaten Ketapang, bahwa kita untuk menuju Ketapang yang lebih baik dan sejahtera perlu sebuah kebersamaan, ketulusan dalam berusaha, keberanian dalam mengambil keputusan untuk kepentingan masyarakat dan mengembalikan kepada titahnya rasa kepedulian dan kebanggaan terhadap Tanah Kayong yang bertuah ini dengan mengesampingkan rasa kepentingan golongan, suku, ras, dan agama,” ungkap Mantan Ketua I Dewan Adat Dayak Kabupaten Ketapang ini. Sebagai penutup sambutannya, Drs. Issiat Isyak membacakan sebuah puisi yang berjudul ”Pastikan!!! Bapak Mecer dan Jamhuri Amir”.
Setelah itu, acara dilanjutkan dengan pembacaan naskah deklarasi oleh T. Arsen Rickson yang disertai dengan penandatanganan naskah deklarasi oleh perwakilan empat partai pengusung, yakni Partai Hati Nurani Rakyat, Partai Persatuan Daerah, Partai Penegak Demokrasi Indonesia, dan Partai Nasional Benteng Kemerdekaan. Penandatanganan naskah deklarasi tersebut diakhiri dengan pemberian ucapan selamat dari tokoh politik, tokoh masyarakat, dan para pengurus empat partai pengusung kepada A.R Mecer dan Jamhuri Amir.
 Di tengah-tengah acara, riak-riak suara kecil ”Hidup Mecer-Jamhuri” terdengar merdu. Spontan saja, semua orang yang ada di Gedung Pancasila berpadu meneriakkan yel-yel itu. Apalagi saat pembawa acara mempersilakan A.R. Mecer untuk menyampaikan pidato politiknya. Yel-yel itu semakin lantang diteriakkan. Dalam pidatonya, Tokoh Pengerak Ekonomi Kerakyatan di Indonesia ini menyatakan bahwa ia merasa bertanggung jawab untuk mengabdikan diri di tempat kelahirannya, Kabupaten Ketapang. Ia juga yakin dengan dukungan pemerintah daerah, semangat gerakan ekonomi kerakyatan akan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat Ketapang. ”Saya adalah anak perantau yang merasa terpanggil untuk membangun kampung halaman sendiri. Saya telah menghabiskan lebih dari setengah abad hidup saya melakukan pemberdayaan ekonomi rakyat di luar kampung halaman saya. Sekarang waktunya bagi saya untuk membangun kampung halaman sendiri, yaitu Ketapang tercinta. Saya berkeyakinan kuat apabila semangat gerakan ekonomi kerakyatan yang begitu besar didukung oleh pemerintah daerah dengan sungguh-sungguh, masyarakat Ketapang akan mengalami peningkatan taraf hidup dan kesejahteraan di masa mendatang” ungkap Mantan Anggota MPR RI dari utusan golongan masa bakti 1999-2004 ini.
A.R. Mecer juga menyampaikan enam skala prioritas pembangunan jika ia dan Jamhuri Amir mendapat dukungan dari masyarakat untuk memimpin Ketapang, yaitu pembangunan ekonomi rakyat, pembangunan SDM melalui pendidikan berkualitas, kesehatan, kesetaraan gender, lingkungan yang menjamin keberlanjutan, dan pembangunan infrastuktur, terutama infrastruktur pedesaan. Di akhir pidatonya, Mantan Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Tanjungpura ini juga mengajak segenap elemen masyarakat Ketapang untuk mendukung dirinya dan Jamhuri Amir. ”Oleh sebab itu kalau kita sepakat ingin Keteapang maju seperti daerah lain, jangan ragu, mulai hari ini terus galang dukungan untuk kami. Ingat selalu moto kita, Pastikan Mecer-Ja’Am atau Mecer-Jamhuri.”
Tak lama setelah A.R. Mecer menyampaikan pidato politik, Jamhuri Amir maju ke mimbar. Jamhuri Amir menyatakan keyakinannya mampu membawa Ketapang ke arah yang lebih baik lagi jika ia dan A.R Mecer diberi kesempatan oleh masyarakat untuk memimpin Ketapang lima tahun ke depan. ”Saya yakin bersama Pak Mecer akan membangun Ketapang yang lebih sejahtera, jika kami mendapat dukungan dari masyarakat untuk menjadi bupati dan wakil bupati Ketapang periode 2010-2015,” ungkap Jamhuri Amir dalam pidatonya. Setelah pidato Jamhuri Amir, acara kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Eka Kawirayu, Ketua DPD Partai Hanura Kalimantan Barat. Deklarasi yang berakhir sekitar pukul 11.00 di bawah terik matahari itu, ditutup dengan lagu Maju Tak Gentar dan Tanah Airku serta doa bersama.
Pada hari itu, sekitar pukul 11.48 pasangan A.R. Mecer dan Jamhuri Amir juga mendaftarkan diri sebagai calon Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Ketapang periode 2010-2015. Kedua pasangan ini bersama rombongannya diterima oleh anggota KPUD Kab. Ketapang, Alkab Pasti. ”Hari ini berkas dari pasangan calon A.R. Mecer dan Jamhuri Amir kami terima dan akan diproses,” kata Alkab. Mengenai persyaratan pencalonan kedua pasangan ini, menurut Alkab dianggap memenuhi. Alkab menambahkan, hal-hal lain berkaitan dengan persyaratan yang harus dipenuhi, akan dikonfirmasi kepada tim sukses.  

Suara hati rakyat
Tampilnya A.R. Mecer sebagai Calon Bupati Ketapang berpasangan dengan Jamhuri Amir mendapatkan banyak dukungan dari beberapa kalangan masyarakat. Banyak yang tak mengira A.R. Mecer mau menjadi calon Bupati Ketapang, karena levelnya yang lebih tinggi. Pernah menjadi anggota MPR RI dan DPRD Provinsi Kalbar.
Herman Wimpy, Ketua DPC Partai Persatuan Daerah mengungkapkan rasa salutnya kepada A.R Mecer. Menurutnya, A.R. Mecer merupakan tokoh yang sudah dikenal luas oleh masyarakat lewat gerakan ekonomi kerakyatan, baik di wilayah Kalbar maupun secara nasional. “Salut untuk Pak Mecer yang sudah ingin mengabdikan dirinya untuk masyarakat Ketapang,” kata Herman. Mengenai kapabilitas pasangan A.R. Mecer dan Jamhuri Amir, menurut Herman tidak ada yang perlu diragukan lagi. Herman menambahkan kedua pasangan ini sangat merakyat dan memahami keadaan masyarakat. “Pak Mecer adalah tokoh penggerak ekonomi kerakyatan. Di bidang politik pengalaman beliau tidak diragukan lagi. Pernah menjadi anggota DPRD Provinsi Kalbar, bahkan sebagai anggota MPR RI. Begitu juga dengan Pak Jamhuri. Beliau adalah seorang tokoh muda yang sangat merakyat. Saya mengenal beliau sejak beliau masih menjadi pengacara. Beliau sangat mengharagai kepentingan rakyat kecil dan sering membantu rakyat yang kesusahan. Semoga ke depan, jika keduanya terpilih dapat membawa Ketapang menjadi lebih baik” ungkap Herman.
Haji Mat Hoji, Tokoh Masyarakat Madura Ketapang menyatakan jika pasangan A.R Mecer dan Jamhuri Amir merupakan figur yang bersih dan merakyat. “Kita mengenal kedua tokoh tersebut. Pak Jamhuri banyak terjun di masyarakat untuk membela kepentingan masyarakat. Beliau juga figur yang bersih. Begitu juga Pak Mecer. Beliau telah mampu memajukkan ekonomi masyarakat, contohnya dengan CU. Kita berharap keduanya dapat mengadakan perubahan di segala bidang dan membawa Ketapang lebih maju lagi,” kata Mat Hoji. Begitu juga yang dikemukakan Haji Hamimzar Yahya. Ia menyebut pasangan A.R. Mecer dan Jamhuri Amir sebagai pasangan yang ideal. “Pak Mecer dan Jamhuri merupakan pasangan yang ideal dan berpengalaman untuk memimpin Ketapang. Keduanya merupakan orang asli Ketapang yang sudah mengenal dan tahu Ketapang,” ungkap Hamimzar. Mengenai kemampuan kedua tokoh untuk memimpin Ketapang, Hamimzar mengatakan tidak ada yang perlu disangsikan lagi dari kedua tokoh.
Dukungan untuk pasangan Mecer dan Jamhuri juga datang dari M. Raji, perwakilan Asosiasi Pelelang Ikan di TPI Rangga Sentap Kab. Ketapang. Ia mengenal sosok A.R. Mecer sebagai pendiri CU, sedangkan Jamhuri adalah mantan pengacara yang telah banyak memperjuangkan kepentingan rakyat kecil. “Saya turut mendukung keduanya dan saya juga berharap rekan-rekan bisnis dan nelayan untuk mendukung pasangan ini.” M. Raji juga berharap jika kedua pasangan ini terpilih dapat membawa Kabupaten Ketapang lebih baik lagi. Sementara itu, Chalip Tagua yang mengaku sebagai perwakilan kaum muda Ketapang menyatakan ia mendukung A.R. Mecer karena keberpihakan beliau kepada masyarakat kecil. “Saya mendukung Pak Mecer bukan hanya karena beliau orang Dayak, tapi karena keberpihakan beliau kepada kaum miskin dan niat baik beliau untuk berkarya bagi masyarakat Ketapang,” kata Chalip.
Akia, pengusaha bengkel di Ketapang juga menyatakan dukungannya kepada pasangan Mecer Ja’ Am. “Pasangan ini merupakan pasangan yang pas dan wajar untuk memimpin Ketapang. Saya sendiri mendukung sepenuhnya pasangan ini,” ungkap Akia. Begitu juga halnya dengan Sakura, ia mengungkapkan pasangan Mecer dan Jamhuri merupakan perpaduan antara tokoh muda dan tua yang pantas untuk memimpin Ketapang. “Pasangan ini adalah pasangan yang serasi untuk memimpin Ketapang,” kata Sakura. Sakura juga sempat bercerita mengenai pengalamannya bersama A.R. Mecer. “Beliau orangnya sederhana, rendah hati, bergaul dengan siapa saja. Padahal dulu saya bukan siap-siapa, hanya seorang mahasiswa, sedangkan beliau adalah anggota dewan. Tapi, beliau dengan tulus mau membantu kami yang saat itu sedang kesusahan,” cerita Sakura.                             
Maksimianus Hajaang (Terbit di Majalah Kalimantan Review, Edisi 175)

Kamis, 11 Maret 2010

Awal yang Indah untuk Masa Depan yang Cerah

Pagi kembali lagi. Langit tampat cerah. Semilir angin pagi membuat mataku sayu. Serasa tak ingin bergerak dari tempat tidurku. Tapi, kutak ingin kalah oleh malasku. Aku bergerak. Duduk di teras rumahku. Kutatap mentari pagi. Sejenak memikirkan apa yang telah terjadi dan akan terjadi.
     Hari itu hari Kamis. Alamanak menunjuk angka 11 Maret 2010. Kusadari betul jika hari itu adalah hari yang bersejarah dalam hidupku. Ujian yang paling menantang. Hingga membuatku deg-degan tak kepayang. Seminar, begitulah istilah untuk menyebut ujian yang akan kuhadapi.
       Hari itu aku begitu resah. Mukaku pucat. Pikiranku melayang nun jauh ke ruang seminar. Aku coba tenang. Tapi, tak bisa. Apa yang kubaca menjadi sia-sia saja. Kucoba paksakan saja. Sambil menanti waktu berlalu. Rentetan doa kuhaturkan dalam hatiku. Mohon penerangan dan penyertaan Tuhan.
       Jarum jam menunjuk angka 10.00. Itu berarti aku harus menunggu kurang lebih enam jam lagi. Aku tak sabar lagi menunggu saat-saat itu. Saat-saat yang menegangkan dan penuh dengan tantangan. Dalam benakku terlintas huruf-huruf sial yang menakutkan. A atau B atau C. Itulah yang terus melintas di benakku.
“Gimana udah siap blum?” sapa Eko, temanku. Ia datang mengunjungi aku. Sesuai dengan janji kami kemarin. “Sudahlah, santai magang,” katanya coba menenangkanku. Maklum saja. Menurutnya aku tak terlihat seperti biasanya. Raut wajahku menampakkan seribu kegelisahan.
      Waktu tak terasa berlalu. Jarum jam terasa bergerak begitu cepat. Sekitar pukul 2.00, aku dan Eko berangkat ke kampus. Aku kenakan pakaian yang tak lazim kupakai. Almamater dengan latar kemaja putih. Kupadukan dengan celana kain berwarna hitam. Selama perjalanan, aku hanya bisa menyanyi. Coba menenangkan hatiku. Sesekali kusapa Eko yang memacu motor dengan laju. Coba memperbincangkan dan memprediksi apa yang akan terjadi nanti.
       Setiba di kampus, aku berjalan masuk menuju ruang seminar. Hatiku semakin berdebar. Padahal masih banyak waktu bagiku untuk menenangkan diri. Tapi, begitulah aku. Aku sangat tegang jika menghadapi hal-hal seperti ini. Tak terbiasa, tapi sering juga menghadapinya. Fenomena yang lazimnya kuhadapi.
Saat-saat menunggu di ruang seminar. Aku ditemani beberapa teman kelasku. Dukungan dan semangat mereka berikan padaku. Tapi, aku tetap tak tenang. Menurut mereka, wajahku begitu pucat. Aku tampak resah dan gelisah. “Santai Max, kamu pasti biasa,” kata tamanku memberikan dukungan. Aku sangat beruntung memiliki banyak teman yang selalu mendukungku. Dukungan fisik dan moril mereka berikan padaku.
       Saat-saat yang menegangkan itu pun tiba. Ketika semua dosen telah berkumpul di ruangan seminar. Tak lama kemudian, dosen pembimbing utamaku membuka seminar. Itu berarti seminar pun dimulai. Kesempatan pertama diberikan kepadaku. Selama delapan menit aku mengemukakan gagasanku. Setelah itu, berbagai pertanyaanpun datang menghujamku. Pertama, dari empat mahasiswa. Selanjutnya, kesempatan dua dosen penguji mengujiku. Itulah saat-saat yang sangat menegangkan. Pertanyaan dari penguji memang benar-benar berorientasi untuk menguji. Aku harus benar-benar memahami. Kemudian menjawab dengan jelas dan tepat. Begitulah seterusnya hingga dosen penguji selesai menguji.
     Akhirnya, ending dari ketegangan ini pun datang. Dosen pembimbing utama yang berlaku sebagai moderator membacakan hasil seminar. Jantungku berdebar kencang. Kakiku gemetaran. Harap-harap cemas menanti nilai akhir yang kuperoleh…Tik…tik….tik….tik….tik….Akhirnya aku mendapatkan nilai A (81). Aku begitu bahagia. Ketegangan di hatiku pupus. Berubah menjadi kebahagian yang tak terhingga. Aku langsung menyalami dosen pembimbing dan pengujiku.
        Inilah awal yang indah untuk masa depan yang cerah. Tapi, aku tak boleh terlalu jumawa. Masih panjang jalan yang harus aku lalui. Ribuan tantangan telah menanti. Aku harus tetap fokus dan menjalani semuanya dengan sepunuh hati. Berharap keindahan ini dapat terus kurasakan. Hari ini dan esok.
      Terima kasih Tuhan. Ini semua karena campur tanganmu. Aku tak akan mendapatkan hasil ini tanpamu, karena aku bukan siapa-siapa. Jamahlah aku selalu. Tuntunlah aku dalam meniti jalan kehidupan ini yang penuh dengan rintangan. Terima kasih juga kuucapkan untuk teman-temanku yang telah memberikan dukungan dan bantuannya. “Aku bukan siapa-siapa tanpa kalian semuanya”.
12 Maret 2010

Kamis, 18 Februari 2010

RABU ABU:
ANTARA PUASA DAN PENEGASAN IMAN


Hari Rabu Abu bukan hanya tentang berpuasa dan berpantang selama 40 hari. Tapi, sebuah momen berharga bagi manusia untuk memperbaruhi iman. Tanda salib dari abu yang dikenakan imam di dahi umat menjadi ciri khas dari perayaan Rabu Abu. Lalu, dari mana asal abu itu? Apa maknanya bagi kita, umat Katolik?       
Aku bangun dari tidurku. Bersiap melangkah, memulai hari. Penuh harap akan sesuatu yang lebih baik lagi. Seperti biasa, aku berangkat bekerja. Motor yang kupakai motor pijaman, milik kakak sepupuku. Motorku masih rusak. Hari itu hari Rabu, Alkamak menunjuk angka 17 Februari 2010.
 Di kantor aku beraktivitas seperti biasanya. Kucoba selesaikan desain penelitianku yang terbengkalai. Kupusatkan konsentrasiku untuk mengetik apa yang dapat aku ketik. Tapi, ada saja yang menggangu. Suara-suara kecil dari hatiku, maupun dari sekitarku. “Udah terima abukah?” kata seseorang di kantorku bertanya entah kepada siapa. Kepada aku atau seseorang di dekatku. Meski tak secara langsung bertanya kepadaku, tapi timbul tanda tanya besar di benakkua. “Abu apa yang diterima?” begitu yang ada dalam benakku.
Tak perlu lama aku memikirkan tentang abu itu. Suara dari teman sekantorku terdengar. Ia mengatakan ia belum pergi ke gereja. Saat ia menyebut gereja, pikiranku langsung tertuju pada perayaan Rabu Abu. “Ini hari Rabu, tapi apa benar hari ini ada misa Rabu Abu?” aku kembali bertanya. Kucoba mengkonfirmasi pada temanku. Rupanya benar. Di gereja ada perayaan Rabu Abu. Aku merasa bodoh dan sangat berdosa. Ada misa hari Rabu Abu saja aku tidak tahu. Ini mungkin akibat malasnya aku pergi ke gereja.
Aku tak boleh melewatkan momen ini. Bagaimanapun caranya aku harus pergi ke gereja, mengikuti misa Rabu Abu. Saat itu juga aku putuskan dalam hatiku untuk pergi ke gereja. Jarum jam menunjuk angka 17.00. Aku bergegas meninggalkan kantor. Sambil bernyanyi, kupacu motorku dengan laju. Bernyanyi membuat perjalanan tak terasa. Entah lagu apapun, yang penting membuatku terhibur. Meski suara sumbang, aku tetap menikmatinya.  
Aku singgah sejenak di rumahku, mengantar tas kerja yang melekat di pundakku. Aku juga menyempatkan diri untuk mandi dan berganti baju. Aku ajak saudaraku untuk pergi ke gereja. Tapi, entah mengapa ia tidak mau. Malah ia bertanya ada misa apa di gereja. Pertanyaan yang tadinya ada di benakku. Jam menunjuk pukul 17.45. Aku berangkat ke gereja.
Berada di gereja memberikan ketenangan dalam hatiku. Apalagi dengan mengikuti misa Rabu Abu. Rabu Abu adalah momen penting bagi umat Kristiani, khususnya umat Katolik.  Rabu Abu merupakan awal masa berpantang dan berpuasa selama 40 hari. Sekaligus menandai permulaan masa pra-Paskah.
Mengapa harus Abu?
Abu yang digunakan dalam misa telah ada dalam perjanjian lama. Abu melambangkan sesuatu. Seperti yang ditulis oleh P. William P. Saunders. “Penggunaan abu dalam liturgi berasal dari jaman Perjanjian Lama. Abu melambangkan perkabungan, ketidakabadian, dan sesal/tobat,” tulis P. William dalam Aritikelnya. P.Willian juga memberi contoh bagaimana abu telah digunakan sejak zaman perjanjian lama.  Misalnya, Daniel dalam nubuatnya tentang penawanan Yerusalem ke Babel (sekitar 550 SM) menulis, “Lalu aku mengarahkan mukaku kepada Tuhan Allah untuk berdoa dan bermohon, sambil berpuasa dan mengenakan kain kabung serta abu.” (Dan 9:3).
Mengenai penggunaan abu juga pernah disebutkan oleh Yesus. Saat itu yesus berkata kepada kota-kota yang menolak untuk bertobat dari dosa-dosa meski mereka telah menyaksikan mukjizat-mukjizat dan mendengar kabar gembira. “Seandainya mukjizat-mukjizat yang telah terjadi di tengah-tengahmu terjadi di Tirus dan Sidon, maka sudah lama orang-orang di situ bertobat dengan memakai pakaian kabung dan abu.” (Mat 11:21).
Sekitar tahun 1000, seorang imam Anglo-Saxon bernama Aelfric menyampaikan khotbahnya, “Kita membaca dalam kitab-kitab, baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, bahwa mereka yang menyesali dosa-dosanya menaburi diri dengan abu serta membalut tubuh mereka dengan kain kabung. Sekarang, marilah kita melakukannya sedikit pada awal Masa Prapaskah kita, kita menaburkan abu di kepala kita sebagai tanda bahwa kita wajib menyesali dosa-dosa kita terutama selama Masa Prapaskah.” Setidak-tidaknya sejak abad pertengahan, Gereja telah mempergunakan abu untuk menandai permulaan masa tobat Prapaskah, kita ingat akan ketidakabadian kita dan menyesali dosa-dosa kita.
Hingga saat ini, abu terus digunakan pada setiap perayaan Rabu Abu. Dalam perayaan Rabu Abu, kita mempergunakan abu yang berasal dari daun-daun palma yang telah diberkati pada perayaan Minggu Palma tahun sebelumnya yang telah dibakar. Imam memberkati abu dan mengenakannya pada dahi umat beriman dengan membuat tanda salib dan berkata, “Ingat, engkau berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu,” atau “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil.” Itulah asal abu yang selalu kita gunakan dalam pereyaan Rabu Abu.
Makna Rabu Abu sebagai Awal Masa Pra-Paskah
Rabu Abu menjadi awal yang berharga bagi umat Katolik. Setiap umat wajib menegaskan kembali imannya. Iman yang telah dimantapkan lewat janji baptis pada malam Paskah. Tidak hanya sekedar berpuasa atau berpantang. Tapi, lewat perilaku dan sikap sehari-hari. Jika hanya berpuasa makan dan minum, semua orang mungkin bisa. Hal yang penting adalah bagaimana membuat perilaku dan sikap yang bersahaja dan penuh dengan cinta kasih kepada setiap orang. Momen pra-Paskah harus dimanfaatkan untuk memulai kembali sesuatu lebih baik lagi, sekaligus mempertegas iman.
Bertobat. Itu yang harus dilakukan setiap manusia. Bertobat dapat dilakukan setiap waktu. Tapi, momen pra-Paskah dapat dijadikan sebagai awal untuk memulainya. Masa pertobatan merupakan pemurnian iman untuk mengikuti Tuhan. Puasa selama 40 hari menjadi media untuk melakukan hal tersebut. Puasa dilakukan untuk mengingatkan kita kepada Yesus. Yesus juga pernah melakukan hal tersebut selama empat puluh hari dan empat puluh malam di gurun pasir.
      Mari kita renungkan pada diri kita sendiri. Apa makna dari hari Rabu Abu? Mengapa kita harus berpuasa? Dengan demikian, puasa dan pantang yang kita lakukan akan memberikan makna yang berarti bagi kita. Terlebih sebagai media untuk menegaskan kembali iman kita. Puasa juga dapat dijadikan momen yang tepat untuk menghancurkan bongkahan-bongkahan kelaliman dan kemunifakan yang kita lakukan di dunia ini. Amin. Dengan tanda salib dari abu juga kita diharapkan semakin menyadari bahwa kita adalah manusia yang tak sempurna. Manusia yang penuh dengan kesalahan, sehingga kita harus selalu memperbaiki diri kita dari waktu ke waktu.

Tulisan ini hanya sebuah renungan.
Jika ada yang kurang, maafkan dan berikan masukan…..Terima kasih….
Maksimianus Hajaang Deornay
18 Februari 2010






Selasa, 16 Februari 2010

100 Hari Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II
Unjuk rasa terjadi di berbagai penjuru tanah air. Sejumlah elemen massa turun ke jalan dengan membawa berbagai aspirasi. Ada yang menyampaikan aspirasinya dengan cara damai dan ada pula dengan cara yang tidak bersahabat. Seperti aksi bakar ban dan poster Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wapresnya, Boediono. Unjuk rasa dilakukan untuk menyambut 100 hari pemerintahan SBY dan Boediono.
Pada tanggal 28 Januari 2010, pemerintahan SBY-Boediono genap berusia 100 hari. Pada tanggal itu juga, ribuan massa di berbagai darah Indonesia melakukan unjuk rasa. Unjuk rasa yang bertepatan dengan hari itu merupakan bentuk “tagihan” rakyat terhadap janji-janji politik SBY-Boediono untuk melakukan perubahan dan perbaikan nasib mereka. Tidak hanya itu, hal yang paling disoroti adalah program 100 hari SBY-Boediono berserta Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II.
Sebagian kalangan kritis menilai100 hari pemerintahan SBY-Boediono beserta Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II belum mampu memenuhi janji-janjinya, terutama harapan rakyat dengan program 100 hari yang dicanangkan. Menurut Siti Zuhro, pengamat dan peneliti politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), program 100 hari gagal memberikan fondasi yang cukup kuat bagi pemerintahan untuk melangkah lima tahun ke depan. Secara umum, menurutnya, kinerja 36 departemen/kementerian nyaris tidak terdengar. Aktivitas yang dilakukan tak lebih dari business as usual atau tanpa terobosan yang luar biasa. “Padahal, rakyat mengharapkan suatu gebrakan. Ketika ada kebutuhan yang sudah mencapai klimaks diberi solusi linier, yang terjadi adalah stagnansi,” kata Zuhro seperti dilansir oleh Bogor.Net.
Berbagai kritikan terhadap kinerja 100 hari Kabinet Indonesia Bersatu jilid II tidak dapat dilepaskan dari berbagai kasus dan persoalan hukum yang terjadi di Indonesia. Berbagai skandal dan persoalan hukum yang menyertai perjalanan 100 hari Kabinet Indonesia Bersatu seakan-akan lebih bergema daripada apa yang telah dikerjakan pemerintah selama 100 hari. Sebut saja skandal kasus Polri vs KPK atau lebih dikenal luas oleh masyarakat dengan istilah buaya vs cicak. Mereda buaya vs cicak, menguak skandal kasus Century yang sampai saat ini masih diproses di Pansus Angket DPR. Perhatian masyarakatpun terpusat pada skandal-skandal tersebut.
Sementara itu, menanggapi kritikan-kritikan dari berbagai kalangan, pihak istana tetap bergeming jika kinerja pemerintah cukup berhasil dalam jangka waktu 100 hari. Presiden SBY menilai program 100 hari Kabinet Indonesia Bersatu jilid II beserta jajarannya, 90 % telah mencapai sasaran. Menurut SBY, pencapaian tersebut sesuai dengan hasil laporan monitor atas semua program prioritas dan rencana aksi yang telah dilakukan. SBY juga pernah mengungkapkan beberapa keberhasilan pemerintah dalam program 100 hari, seperti dibentuknya Satgas Pemberantasan Mafia Hukum, perbaikan pelayanan publik, pembangunan 1.206 fasilitas air minum di desa-desa sulit air, dan revitalisasi pusat-pusat pelayanan kesehatan.
Terlepas dari pro dan kontra akan kinerja 100 hari SBY-Boediono, rakyat harus memahami betul apa yang menjadi program 100 hari SBY-Boediono dan seluruh jajarannya, sehingga masyarakat dapat memberikan penilaian secara objektif. Menurut Direktur Eksekutif Indo Barometer, Muhammad Qodari bahwa survei terbarunya menemukan tingkat pengetahuan publik terhadap program seratus hari SBY-Boediono sangat rendah, yakni hanya 49,4 persen. Nilainya kalah jauh dengan kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen (78,9 persen), kasus bailout Bank Century (77 persen), dan kasus penahanan Bibit-Chandra (69,1 persen).
Untuk sekedar mengulang, adapun program 100 hari yang pernah dicanangkan pemerintahan SBY-Boediono yaitu (1) pemberantasan mafia hukum, (2) revitalisasi industri pertahanan, (3) penanggulangan terorisme, (4) mengatasi permasalah listrik, (5) meningkatkan produksi dan ketahanan pangan, (6) revitalisasi pabrik pupuk dan gula, (7) membenahi kompleksitas penggunaan tanah dan tata ruang, (8) meningkatkan infrastruktur, (9) meningkatkan pinjaman usaha mikro, usaha kecil dan menengah yang dikaitkan dengan kredit usaha rakyat, (10) mengenai pendanaan pembangunan, (11) usaha untuk menanggulangi perubahan iklim dan lingkungan, (12) reformasi kesehatan dengan mengubah paradigma masyarakat, (13) reformasi di bidang pendidikan, (14) kesiap-siagaan dalam penanggulangan bencana alam, dan (15) koordinasi yang erat antara pemerintah pusat dan daerah dalam pembangunan di segala bidang. Semoga saja rakyat lebih objetif dalam menilai apakah kelima belas program tersebut sudah dapat dirasakan manfaatnya, sehingga dapat dijadikan sebagai bahan kontrol dan evaluasi bagi kinerja pemerintah SBY-Boediono beserta Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II hingga 2014.

Rabu, 27 Januari 2010

Tambatan Hati di Ujung Hari

(Suatu tulisan untuk mengingatkan begitu cintanya aku pada gadis yang kini telah menjad itambatan hatiku. Vil...begitu aku memanggilnya....)

Kini rasa itu telah ada mengisi hatiku. Aku telah menemukan tambatan hati dan penakluk segala gundahku. Aku merasa tambatan hatiku ini adalah yang terakhir dalam hidupku. Aku ingin lebih dewasa dalam bercinta. Tambatan hatiku adalah gadis SMA yang kini tak lagi berseragam putih abu-abu, melainkan sama sepertiku.
Awalnya semuanya terjadi begitu saja dan terus kubiarkan berlalu. Aku tidak mengenalnya, tapi aku tahu nomor handponenya. Begitulah aku, belum dewasa dalam bercinta. Melalui handpone aku kemudian mencoba mengenal sosok pemilik nomor itu lebih dekat. Mulai nama hingga segala tentangnya aku coba ketahui. Perlahan tapi pasti, semuanya telah ada dalam genggamanku. Perkenalan melalui handpone itu kemudian berlanjut dengan suatu janji untuk bertemu. Bukan lewat mimpi, tapi lewat tatapan mata yang akhirnya menumbuhkan suatu perasaan yang tidak biasa. Perasaan itu sangat kurasakan, tapi aku juga tak tahu apakah saat itu rasa itu juga ada dalam diri gadis. Akan tetapi, lambat laun aku sadari jika rasa itu memang telah melebur menjadi satu.
Melalui handpone hingga tatapan mata telah membuat semua terasa berbeda. Aku tak tahu sejak kapan aku resmi menjadikan gadis itu sebagai tambatan hatiku. Aku tak pernah merasa mengungkapkan melalui tatapan mata bahwa aku aku punya perasaan yang berbeda kepada gadis itu. Aku hanya jantan jika melalui handpone. Begitulah aku, masih belum dewasa dalam bercinta. Akan tetapi, aku sangat bangga dengan gadis yang kini dan di masa yang akan datang menjadi tambatan hatiku. Dialah sosok yang sangat mengertiku. Ia seakan menjadi penyejuk hati di tengah-tengah gundah yang menerpaku. Sosok yang mengerti dan memahami segala keadaanku, meski itu hanya sebatas dugaanku. Inilah yang membuatku tak ragu untuk menjadikannya sebagai tambatan hati saat ini dan di ujung hariku.
Bukan tanpa halangan semuanya tetap ada sampai saat ini. Pernah kurasakan kembali gundah menerpa. Aku merasa kehilangan sosok yang semakin hari dan sampai saat ini kudambakan. Bukan hanya karena jarak, tapi karena komunikasi lewat handpone yang tak lagi berlanjut. Entah ke mana ia selama itu, aku sendiri tak pernah tahu meski kucoba untuk mencari tahu. Berbulan-bulan aku tak lagi berhubungan dengannya melalui handpone. Kuhubungi, tapi tak pernah kudapati. Meminjam isitilah komunikasi, nomor handponenya ”berada di luar jangkauan jaringan”. Apalagi saat kucoba hubungi terdengar kalimat ”ini adalah layanan kotak suara, Anda dapat meninggalkan pesan”. Betapa perihnya hatiku seringkali mendengar kalimat itu. Tapi aku tak pernah patah arang untuk mencoba. Aku tetap mengirimkan pesan singkat yang menanyakan keberadaan dan kabarnya. Mungkin karena Tuhan tahu itikad dan kesungguhan hatiku, aku kembali dipertemukan dengan gadis dambaanku.
Di suatu siang saat aku terbaring lemah, kudengar handponeku berdering. Kucek dan kulihat satu pesan masuk. Segera aku buka dan kubaca. Syukurlah, itu adalah pesan singkat dari gadis yang suatu hari nanti akan kupersunting. Bukan kepalang senangnya hatiku siang itu, apalagi isi pesan singkatnya mengabarkan jika tambatan hatiku berada di kota yang sama dengan yang untuk sementara waktu aku diami. Saat itu, aku memang tak langsung membalas pesan singkatnya, karena pulsa handponeku telah habis. Apalagi sedikitpun aku tak punya uang untuk membeli pulsa. Saat senja tiba barulah aku coba menghubungi dan itulah awal yang sangat indah bagi aku dan dia. Langsung kuungkapkan segala kegundahanku setelah berbulan-berbulan tak lagi dapat berkomunikasinya dengannya. Jawabannya saat itu sangat meyakinkanku dan aku tahu itu adalah hal yang benar. Sejak itulah, perasaanku kembali berseri dan diwajahku tampak rona yang begitu membanggakan bagi semua orang yang memandangnya.
Saat ini kucoba jalani dengan apa adanya. Kuakan menjaga segalanya dengan segenap perasaanku. Komunikasi akan menjadi peluru utamaku untuk meyakinkan tambatan hatiku. Semuanya itu kulakukan hanya untuk memperoleh cinta sejati yang akan bertahan sampai mati dan gadisku akan menjadi tambatan hati hingga ujung hariku. Amin...

22 Januari 2009.
(Kutulis saat kutermakan oleh cinta

PELAK-PELIKKU


Aku tahu dengan segala kesulitan yang kuhadapi saat ini pasti akan ada ujungnya. Hanya saja kapan itu akan terjadi? Semuanya terasa hambar dalam otakku, hingga aku sendiri tak tahu apa yang harus aku kerjakan untuk mengakhirinya. Apa aku harus bekerja keras dan menunggu datangnya saat-saat yang indah menghampiriku? Rasanya tak mungkin. Aku harus membiarkan diriku sejenak untuk mendapatkan kepuasan yang tak bandingnya dengan segala yang ingin kuraih. Apalah arti kepuasan sesaat dibandingkan dengan kesuksesan yang akan dirasakan sepanjang hidup ini. Itu yang memang seharusnya ada dan kutambatkan erat di hatiku. Akan tetapi, begitulah hidup. Aku rasa memang itu adalah suatu simpangan yang akan kujalani dalam hari-hariku.
Harus bagaimana? Entah, apa yang terbaik bagiku dan harus aku lakukan untuk mengakhiri segala kesulitan ini. Sering untuk sejenak aku coba memikirkan semuanya. Bersama waktu aku bermimpi ria dan bersama waktu juga aku sering terlelap serta sulit bangun untuk memulai semuanya kembali. Aku pernah merasakan sesuatu yang indah dan semuanya membuat hatiku sumringah. Akan tetapi, aku juga tak lepas dari kesulitan dalam menjalani hari-hari ini. Pernah kulakukan apa yang seharusnya kulakukan dan begitu juga dengan apa yang tidak harus aku lakukan. Itu semua terjadi hanya karena kuingin meraih apa yang aku impikan. Pada akhirnya, aku akan terus mencoba memperbaiki diriku. Melepaskan diriku sejenak dalam penat dan kembali memulai semuanya dari suatu titik yang kusebutkan dengan titik kebangkitan. Aku ingin bangkit dan jauh dari kata putus asa. Aku ingin berjalan seperti mauku sembari memilah segala bisikan-bisikan yang akan membuatku terus bersemangat. Aku juga ingin terus bekerja keras untuk mengakhiri pelak-pelik hidupku, walaupun aku harus tertahir menghadapinya. Tuhan, tolong aku.....

22 Januari 2009.
(Kutulis saat-saat mataku tak dapat kupejamkan dengan mesra)