Senin, 23 Februari 2009
MAKAN MENGHADAP BULAN
Aku semakin tak tahan untuk menyimpan segudang rasa ini. Rasa yang semakin padamkan semangatku. Kata-kata itu terus saja berkeliaran di benakku. Aku makan penuh dengan amarah untuk membalas semua perlakuan itu. Mungkin di benak mereka, aku tak pernah ada harganya. Hanya tuntutan saja yang membuat mereka betah untuk setiap minggunya mentransfer ilmu kepadaku. Ilmu yang tak ada ubahnya dengan segudang padi yang susah untuk diangkut. Ilmu yang sama halnya juga dengan permen karet, dan lauk yang sedang aku makan ini. Hanya terpaksa aku menguyahnya. Tapi, kapan aku bisa membalasnya.
Malam itu, aku hanya duduk terpaku membayangkan apa yang sedang terjadi. Sinar bulan membuat terang di sekeliling rumahku. Aku teguk minuman pelepas amarahku. Mengharap ada ketenangan dalam batinku ini. Saat-saat kuterbayang pada kesombongan orang yang baru aku hadapi, aku lihat seseorang berjalan dengan langkah tegap, membawa tas hitam dan buku di tangannya. Dia memang mirip seorang pahlawan tanpa tanda jasa, seperti yang aku impikan selama ini. “Hei…Pak guru, sedang melamun ya?” Kata Bogem padaku. Aku perhatikan Bogem begitu rapi malam ini. “Lagi santai saja Bog.” Kutawarkan pada Bogem apa yang sedang aku teguk. Bersama malam yang dikabuti bintang, aku dan Bogem terhanyut dalam derasnya air penuh rasa ini. Air pelarian segala kegundahan. Air yang melekat di dalam kehidupan anak daerah yang sedang berusaha mengejar cita-citanya. Seperti aku dan Bogem.
Saat embun mulai menyelimuti pagi, Bogem pun pulang. Dengan terpaksa aku mengijinkannya. Aku takut daya imaji Bogem terlalu tinggi, hingga rumahnya sendiri dia tak tahu. Bogem telah pulang, dengan tas hitam tepat di atas kepalanya. Buku yang tadinya ia pegang, kini sudah ada di saku celananya. Rambutnya berubah mirip vokalis band yang kini menjadi idola di kalangan remaja. Kelakuannya memang membuatku tertawa terbahak-bahak. Bogem juga tampaknya menikmati keadaannya itu, ia serasa terbebas dari berbagai masalah yang sedang ia hadapi. Ya...berbagai masalah yang terus menghujamnya.
Bogem dan aku sudah lama bersahabat. Sudah banyak waktu yang kami habiskan untuk melukiskan tinta manis di dunia ini. Pahitnya hidup pun sudah biasa kami berdua lalui bersama. Telanjang untuk menang pun pernah dilakukan. Seperti kemarin, saat Bogem dihajar oleh kata-kata kaum terpandai yang penuh dengan embel-embel di belakangnya. Maksud mencari ilmu dan sedikit menyumbung pendapat, tapi Bogem malah disidang dan dituduh merusak citra mereka. Bagaikan seorang pencuri saja Bogem di hadapan mereka. Lebih dari itu, Bogem hanya dipandang sebagai yang orang tak ada sumbangsihnya bagi manusia yang penuh dengan kemunafikan itu.
“Berikan saja teori-teori itu, lakukan saja sesuka bapak (sengaja ’b’ dikecilkan), asal bapak senang akan saya ikuti! Saya kan manusia bodoh, tak ada satu pun teori yang saya ketahui.” Kata-kata itulah yang selalu aku bingkaikan dalam benakku. Gagahnya Bogem di hadapan manusia yang penuh sains itu. Aku sempat tersentak ketika ia mengatakan begitu. Keberanian itulah yang membuatku kagum dengan Bogem. Meski dihadapkan pada pilihan yang menyulitkan dan pada senjata mematikan milik kaum sains itu, Bogem tak gentar. Ia tetap pada pendiriannya, seperti yang selalu ia katakan padaku, “Untuk apa takut, kalau kesalahan memang jauh dari kita”.
Seperti biasanya, siang itu aku dijemput oleh Bogem dengan Phonixnya. Dalam perjalanan, Bogem berbicara padaku, “Lihat motor yang dipakai lelaki itu, mobil itu juga.”Bogem menunjuk ke arah motor dan mobil mewah yang melintas di jalan. “Suatu saat nanti, kita juga akan seperti itu.” Kataku pada Bogem sambil tertawa. “Jangan bermimpi, sampai kapan pun hidup kita tak akan berubah, Phonix ini juga yang akan mengantar kita. Sampai kapan pun, selalu si buntut ini.” “Tapi…”Belum sempat aku berbicara, Bogem sudah memotongnya, “Hari ini adalah usaha untuk hidup yang lebih baik ke depannya. Kesusahan hari ini adalah kesenangan untuk keturunan kita di waktu yang akan datang. Berharaplah apa yang baru aku katakan itu dapat tercapai, bukan berharap memiliki apa yang aku tunjukkan tadi. Itu hanya sesaat, dan bukan ukuran bagi kita.”
Sampai di tempat menempa ilmu, aku dan Bogem langsung menuju kelas. Di kelas tampak orang-orang sudah berkumpul semuanya. Mereka sedang membicarakan sesuatu yang aku sendiri tak mau tau apa yang sedang mereka didiskusikan itu. Membosankan jika berbicara hal-hal yang penuh dengan intuitif dan teori saja. Teori-teori saat ini memang begitu mewabah, sampai-sampai aku juga sering kali dijuluki dengan sebutan Mr. RPP oleh Bogem. Sedangkan ia aku juluki dengan sebutan “Marx”, nama seseorang yang menjadi buah bibir di kelasku.
Aku dan Bogem duduk paling belakang, membaca buku sambil menunggu orang yang paling diharapkan dapat menurunkan ilmunya kepada kami. Keadaan di kelas tampak semakin ribut saja, apa yag dibicarakan mereka semakin tak jelas. Aku sengaja tak mau tahu dengan apa yang mereka bicarakan. Aku tak mau mencampuri urusan yang tak ada sangkut pautnya denganku. Dan mereka juga tampak tak mengacuhkan kehadiranku dan Bogem. Mengiriskan jika kelas menjadi sarang bermain. Sarang menghabiskan waktu saja tanpa ada makna. Janganlah berharap untuk menjadi professional, jika selalu saja hal itu dilakukan dan tentunya dibiasakan. Hanya pulang, dan pulang, itu yang selalu ada.
Tampaknya tak ada sesuatu yang berubah setelah hampir setengah jam aku dan tentunya si Bogem duduk di kelas eksekutif ini. Keramaian berubah menjadi kesunyian. Hanya seseorang yang masih tampak tenang menunggu dan selalu menunggu pengantar ilmu hadir untuk memberikan ceramahnya. Walau tak semuanya seperti itu. “Ti, mana yang teman-teman yang lain?” Tanyaku pada Yanti yang dikenal sebagai anak pendiam di kelasku. Dengan halusnya, Yanti mengatakan kalau yang lainnya sudah pulang. Pulang…selalu saja seperti itu. Selalu saja membuang waktu untuk berguru. Berguru menjadi guru, berguru menjadi yang digugu. Sampai kapan seperti ini, jika harus terus pulang? Pulang penuh dengan kekosongan. Tak seperti Yanti, yang selalu setia menunggu.
Memang Yantilah gadis idaman semua pria. Gadis penuh sensasi, bukan sensasi seperti selebriti ataupun sejenisnya. Tapi sensasi akan tingkahnya yang begitu cerdas dalam segala hal. Tapi, tidak bagiku. Sensasinya Yanti takmembuat hatiku berpaling. Hatiku tetap pada pilihan utamanya. Terutama adalah Frida, sang pencuri hati di setiap waktu. Aku tak pernah bisa lari dari bayangan hantu seperti dirinya.
Tak ada pilihan lain, lebih baik pulang daripada menghabiskan waktu di sini. “Hah…penceramah itu pastinya tidak akan datang, lebih baik kita berdua pulang dan mengerjakan tugas yang sudah menumpuk dan menunggu untuk dijamah.” Bogem memegang tasnya, mengajakku pulang. Kami berdua pun meninggalkan kelas, dengan segala kekosongan dalam dada yang haus akan rasa. Yanti sang penarik hati, tampaknya masih betah duduk dengan buku berlabelkan “IBM” di tangannya. Buku yang sempat membuatku jenuh pada penceramah itu. Penceramah yang selalu menganggap beda aku, Bogem, dan calon pendidik ulung di kelasku. Beda, memang harus berbeda. Tidak akan ada yang pernah sama, tetapi janganlah terlalu membedakan. Sains yang dimiliki bukanlah ukurannya. Hormatilah orang seperti aku dan Bogem, yang selalu haus akan ilmu. Ilmu yang bukan hanya teori belaka, tapi ilmu sejati yang berguna bagi hidup ini.
Pulang dengan segala kekosongan seperti ini, bukanlah yang pertama kali. Tampaknya sejumlah uang yang begitu banyak ayahku keluarkan tak ada artinya. Penceramah itu lebih sibuk dengan urusan dinasnya. Urusan yang tak ubahnya seperti selebriti, yang sibuk show ke luar kota. Kesibukan yang menumbuhkan bibit kesengsaraan bagi orang lain. Bibit penyakit masyarakat yang tak pernah habisnya.
Janganlah berharap aku dan Bogem, ataupun yang sejenisnya menjadi orang yang profesional, jika semuanya ini terus terjadi. Dan janganlah terlalu banyak teori dari pada aplikasinya, jika mau aku dan Bogem, atau pun sejenisnya menjadi pendidik sejati. Seperti yang dikatakan Bogem, saat berhadapan dengan manusia yang begitu jenius itu. Bogem dengan tenangnya mengeluarkan segala jeritan hatinya yang selalu mendekam dalam nurani yang paling dalam.
“Jika aku memang dikatakan bodoh, itu bisa saja memang diriku, dan kesalahan masa lalu yang sering kita sebut kesalahan tradisional. Dan jika aku diharapkan menjadi pembaharu, profesional, ataupun sejenisnya, jangan harap dengan teori itu semuanya akan terwujud. Semuanya akan tetap seperti dulu, karena kami sering pulang dengan segala kekosongan.”
“Bogem, kamu dipanggil.” Kata Riri, teman sekelas kami sambil menunjuk ke ruangan tempat segala urusan kami diselesaikan. Ada apa dengan Bogem, apakah ia akan mendapat doorprize seperti yang selau ditayangkan dalam iklan di tv ataupun di jalan-jalan. Ataukah Bogem tersangkut dengan biaya pendidikan yang supermahal, seperti yang dialami tetanggaku. Ingin sekolah tapi harus bermodal kertas merah yang banyak, kertas yang menjadi segala-galanya di dunia. Kertas yang menjadi ukuran dalam segala hal tentang hidup, termasuk tentang cinta.
Di ruangan yang begitu sejuk, Bogem dengan tenang menghadap seseorang yang sering dikenal dengan julukan si jenius dari pulau seberang. Tak seperti biasanya Bogem dengan tenang berhadapan dengan orang yang selalu ia kagumi dan idolakan. Orang yang superjenius dan juga sering dikenal dengan sebutan Jeng Kelin. Kulihat dari luar tampaknya Bogem menerima sesuatu yang rupanya adalah amplop.
Bogem dengan perlahan membuka dan membaca isi surat berwarna merah itu. Ia tampaknya menikmati surat itu, seperti saat aku dan ia meneguk air kedamain di bawah sinar terang bulan. Ataupun saat aku makan menghadap bulan. Menghadap cahaya terang yang menerangi kelamnya malam dan kelamnya duniaku dan juga Bogem, lelaki yang selalu menggunakan nurani untuk menghadapi masalah hidup ini.
“Sejauh ini, kalian memperlakukanku. Kalian anggap aku apa, kalian pikir aku ini anak SD, yang bisa menerima saja apa kata gurunya.” Kudengar suara lantang Bogem menghentikan sejenak aktivitas orang yang ada di sekitar itu. Rasanya ada sesuatu yang tak beres dalam ruangan itu. Bogem marah dan melalui sinar matanya dapat kulihat kalau ia kini sedang menantang orang yang dihadapannya. “Ini sudah menjadi prosedur,” kata orang yang sebenarnya begitu Bogem hormati dan kagumi. “Prosedur…inikah yang dinamakan prosedur. Prosedur yang bisa membunuhku dan merampas semua cita-citaku?”
Aku hafal dengan apa yang sedang diungkapkan Bogem, itulah jeritan hatinya saat ini. Ia selalu mengatakan kepadaku kalau prosedur di sini selalu penuh dengan teori. Teori yang hanya merugikan kaum lemah, kaum yang selalu terkalahkan oleh harta, seperti aku dan Bogem. Dan ia berkata, “makan menghadap bulan pun tampaknya tak akan kita nimati lagi, karena prosedur-prosedur itu semua. Akan tetapi, makan menghadap kesengsaraan dapat kita lakukan, tapi adakah yang mau sengsara.
Sudah menjadi prosedur, begitulah jawaban yang didapatkan Bogem. Ia keluar dari ruangan itu dengan wajah tertunduk, wajah layu penuh beban yang terbelenggu. Tak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya, saat ia keluar dari ruangan yang akan menjadi kenangan terpahit dalam hidup Bogem. Aku tidak berani untuk menanyakan apa pun kepada Bogem, di saat-saat seperti ini. Biar saja aku cari tahu nanti, saat semuanya sudah tenang.
“Kamu tahu bukan, orang yang selalu kita hormati dan penuh dengan teori itu, menganggap aku sebagai pembangkang. Mereka bisanya menyalahkan, tapi membantu memperbaikinya tak mau. Membuat kita tertekan selama belajar dan menyudutkan, itu yang dapat mereka perbuat. Lihat hari ini, apa yang aku alami. Semuanya akan selalu seperti ini jika terus dibiarkan. Aku telah kalah, aku telah menghancurkan mimpi ibuku. Mimpi menjadikanku seperti alamhrum ayah, guru yang selalu penuh dengan kesengsaraan dan tentunya jauh dari kesejahteraan. Aku tak dapat lagi setiap hari bersama denganmu, dan bersam Phonix ayahku ini.”
Aku tak dapat melakukan apa-apa. Aku hanya diam mendengarkan curahan hati sahabat sejatiku itu. Aku mengerti apa sedang ia rasakan, hatinya begitu hancur. Tapi, aku tak mengerti apa yang sedang terjadi.
Aku dan Bogem pergi. Kuperhatikan pandangan mesra Bogem ke tempat yang penuh dengan cerita. Aku sedikit paham, walau tak semuanya. Semakin menjauh, pandangan mesra itu tetap saja tak hilang. Bogem bagaikan orang yang akan pergi dan tak akan pernah kembali. Ia menatap tajam segalanya. Ia meninggalkan sejuta tanya pada diriku. Tanya akan apa yang sebenarnya terjadi. Tapi, saat aku sedang mencoba untuk mengaitkan semuanya, Bogem mengajakku berhenti dan duduk di samping Tugu Digelis, yang kini jauh dari sorotan mata manusia. Tak seperti biasanya ia mengajakku duduk di tempat yang sebenarnya tak ia sukai.
Aku sadar sesuatu yang yang berat sedang menimpa hati Bogem, hingga ia tak seperti biasanya. “Aku tak lagi dapat merasakan suasana kelas yang begitu menyenangkan bagi kita, walau sedikit memuakan. Aku tak lagi dapat mendengarkan teori-teori itu. Aku telah mengecewakan keluargaku. Dan pastinya aku tak akan lagi menghadap bulan dengan kepala tegak. Aku malu pada bulan.” Bogem memandang malam yang bertabur bintang. Bintang seakan merasakan hancurnya hati Bogem dengan meredupkan cahayanya, mengiringi hancurnya hati sang pencari sejati yang tak kenal lelah. Aku juga mulai paham dengan apa yang sedang dialami Bogem. Aku salut dengan Bogem, ia berani untuk melakukan apa yang sudah menjadi pilihan hatinya. Ia sanggup melawan teorisme. Tak ada kata mundur jika sudah melangkah. Dan yang pastinya segala tentang KTSP akan menjadi mimpi-mimpi yang tak berarti. Semuanya akan menjadi abu dalam pikiran Bogem. Menjadi kenangan pahit dalam hidup pria yang berambut lurus itu. Dan yang terpenting aku akan menjadi orang yang beruntung karena memiliki teman seperti Bogem. Manusia yang selalu anti untuk mengucapkan kata-kata tanpa ada usaha nyata. Manusia yang selalu butuh kebebasan untuk berekspresi, seperti saat-saat makan menghadap bulan.
Semuanya telah berakhir, mimpi-mimpi akan menjadi sesuatu yang tak akan berarti. Bogem telah pergi dengan segala kehancurannya. Tapi Bogem telah berjanji padaku, akan menjadi sesuatu yang berharga bagi hidup ini. Ia akan mencoba menjadi apa pun asalkan itu nyata baginya. Bogemlah korban prosedur yang tak pernah jelas dan selalu berubah sepanjang waktu. Ialah korban teorisme dalam hidup ini. Korban dari keganasan dan kebodohan hidup, yang selalu diukur lewat mistar kenikmatan duniawi.
“ITAH” 24-11-2008
Rabu, 04 Februari 2009
KELAMKU

Hai sobat, inilah kumpulan puisi yang selama ini aku tulis. Kumpulan puisi yang berlabelkan "Kelamku" adalah suatu jelmaan dari segala perasaanku akan hidup dan cintaku. Kelamku mewakili perasaanku yang sempat hancur berantakan hingga aku sendiri tak tahu siapa aku, di mana aku, dan ke mana aku harus pergi?
Aku tahu bahwa saat membaca puisiku ini, semuanya pasti akan tertawa, semuanya pasti akan berceloteh, dan semuanya pasti akan berpikir bahwa puisi ini tak begitu puitis atau malahan tak layak untuk dipertontonkan. Akan tetapi, inilah aku, inilah puisiku, dan inilah hasil pergulatan jiwaku selama ini. Aku hanya ingin kelamku menjadi tahta bagiku selamanya.
Terima kasih aku kirimkan untuk sobat yang sudah rela melirikkan matanya ke blogku ini. Aku juga ingin menyampaikan salam matiku pada seseorang yang tak pernah mau menerima jeritan hatiku. Terima kasih juga untuk sobat-sobat yang selalu menjadi sumber inspirasiku.
KELAMKU
MASIH ADA RASA YANG TERLUPA
DI SAAT SEMUA TELAH BERSAMA
DI SAAT KUTERLANTARKAN WAKTUKU
MAUT TAHU WAKTU TAK PERNAH TAHU
HINGGA SEMUA TAK BERHARGA
DI MATA MEREKA KUTAK SELALU SAMA
TERINJAK DAN TERKUBUR LEMAH
AKU...TERLALU NAIF
DI SAAT SEMUA TELAH ADA DI MUKA,
AKU HILANG TANPA ARAH
HINGGA KATA TIADA BERKATA….
AKU...TERLALU LEMAH
UNTUK MELAWAN
AKU...
TERLALU MUDA
UNTUK MENGENAL PERJALANAN PENUH KEMUNAFIKAN
MAAF WAKTU
MAAFKAN AKU
INGIN KU AKHIRI SEMUA DI SINI
MENGHENTIKAN DETAK NADI
MENGHILANGKAN KELAMKU
MENGHANTARKAN AKU KE KEHIDUPAN ABADI
MENGHINDARKAN AKU DARI KEPALSUAN
DUNIA INI (28-08-08)
WAKTU
WAKTU…
INGINKU HAPUS…
INGINKU PUTAR…
INGINKU BUNUH …
TAPI AKU TAK AKAN MAMPU
INGINKU BERLALU…
WALAU SEBATAS TAHU…
INGINKU TENGGELAMKAN WAKTU…
TAPIKU TELAH TERKURUNG
KEPALASUANKU MENGURUNGKU
DARU WAKTU KE WAKTU
KUTINGGALKAN DIRIKU
SAAT KETERASINGAN MELANDAKU
DAN KINI AKU SENDIRI
MERATAPI BERSAMA SUNYI
TERDAMPAR DALAM KELAMNYA DUNIAKU
TERASING DALAM HEBATNYA DIRIKU (1-09-08)
PALSU
DALAM KEHENINGAN TAK TERTAHAN
RASA NAIF KIAN MENGGEMA
BATU TAJAM TAK BERDURI
MENUSUKKU, BERPALING DARIKU
TANGAN TAK SEPERTI TANGAN
KAKI TAK SEPERTI KAKI
MATA TAK SEPERTI MATA
PALSU TAK SEPERTI PALSU
DAN KINI SEMAKIN PUDAR
RASA CINTA KIAN PALSU
KARENA HARTA SEMUA BISA
DAN POLITIK TAK SEPERTI POLITIK
POLITIK HANYA BISA MENGELITIK
KEPALSUAN PUN TERUS MEMOLITIK
DI ANTARA RESAHNYA JIWAKU
AKAN DUNIA INI…
AKAN CINTA INI... (1-09-08)
KESENDIRIANKU
LELAH TERLALU BERAT KUPIKUL
HINGGA KELAM MENYELIMUTI
SUARA MENYUARA TIADA MAKNA
SESATI AKU,
DALAM KETERASINGANKU
DIAM, DIAM SAJA
DIAM PUN TAK AKAN DIAM
WALAU SEBATAS DIAM.
DAN KINI AKAN BERLALU
WALAU KU PASTIKAN KU TAK AKAN JEMU
MESKI WAKTU TERUS BERLALU
TERPAJAK AKU DALAM KESENDIRINKU (3-09-08)
DALAM
PELANGI PAGI TAK SEMPAT MENGHAMPIRI
TIDURKU TERLALU LELAP
HINGGA KU TAK AKAN TERBANGUN
KICAUN BURUNG MENYAMBUTKU
DENGAN SEDIH, TERTAWAKANKU
BEGITU KOTORNYA DIRIKU
SETIAP MATA MENGHINAKU
DALAM HATI
DALAM…TERLALU DALAM,
PERIH YANG KURASAKAN (4-9-08)
MENGAPA…
PAGI DATANG DAN PERGI
WALAU TAK PERNAH BERARTI
KUTAK AKAN BERHENTI
TANDINGI SEMUA YANG SAKITI
MENGAPA…AKU TERSAKITI
MENGAPA…AKU TERINJAK
KELAMNYA DUNIAKU
SEMPAT PADAMKAN JIWAKU
KEGETIRAN HATI
SELIMUTIKU DALAM CINTA TAK BERSUARA
MENGAPA…HARUS AKU
MENGAPA…TIDAK BERLAKU
BELAS KASIH TIADA MAKNA
DI DUNIAKU YANG KELAM
DIHIASI KALBU PENANTIANKU…
ALAM CINTA TANPA HARTA DAN TAHTA(5-9-08)
TAHTAKU..KELAMKU
SEPI SELIMUTI HATI
DALAM HATI TERPATRI
KATA MENYERAH
KIAN MENGGEMA
TAK PEDULI DENGAN HARTA
TAK PEDULI DENGAN TAHTA
MESKI MEREKA LEBIH NYATA
MESKI MEREKA PUNYA HARTA
KUYAKIN TAHTAKU BUKAN KARENA MEREKA…
TAHTAKU ADALAH KELAMKU
TAHTAKU JELMAKANKU
DALAM GUNDAH KUMENARI
RAYAKAN…SENANDUNGKAN…
TANPA MEREKA…
TANPA HARTA…
KU BERNYANYI KUATKAN HATI…
DAN KINI AKU TAK MAU TAHU
AKAN TAHTA DAN HARTA
DAN KINI KUMAU TAHU
TAHTAKU…KELAMKU (5-908)
SAKIT…
INGIN KUMULAI DENGAN KATA
HARGAIKU DALAM SUNYIKU
SAYANGIKU DALAM SENDIRIKU
SAKIT…TERLALU SAKIT…
TAK TERTAHAN HASRAT SAKITI
LESU LUNGLAI KUMENANTI
TAPI HATI TERLALU BESAR
MENAMPUNG HASRAT TIADA MAKNA
DI DUNIA, KARENA CINTA… (5-9-08
PERCUMA…
PERCUMA…
KUBERNYANYI
DALAM SEPI TIADA HENTI
PERCUMA…
KUBERMIMPI
DALAM GELAP TIADA ARTI
PERCUMA…
KUMENANTI
CINTA SEMUA TIADA MAKNA
PERCUMA…
KUBERHENTI,
DALAM TERANG KUAKAN MATI
SAMPAI KAPAN KUTERUS BEGINI??? (10-9-08)
TIADA ARTI
TERTAHTA AKU DI MALAM TIADA MAKNA
WAKTUKU PULANG DENGAN SEDIH
TIADA ARTI KUTERUS BERTAHAN
HANYA KARENA NAMA DAN HARTA
GENGGAMANKU DIRAMPAS
TIADA MAKNA KUTERUS MELAWAN
SAKIT TERLALU SAKIT
KUTERLENA DALAM LELAHKU
MENCARI ARTI TAK KUNJUNG HENTI
HINGGA PERIH TAK LAGI TERASA
BERULANG KALI…
KESEKIAN KALI…
KUDITERLANTARKAN OLEH CINTA…
TAPIKU TAK AKAN JEMU… (10-9-08)
TERLALU
CINTA…TERLALU
KELAM…HIASI
CINTA…TAK HILANG
SEDIKITPUN PADAMU
KAU…HEMPASKANKU
DENGAN KATAMU
HASRAT JIWAKU LELAP
PUDAR SEMANGATKU
HINGGA KINI KUTAK SADARI
CINTA…TERLALU
TERLANJUR…BUKAN ITU
CINTA…TULUS
BAGIKU…UNTUKMU
CINTA…TERLALU
CINTA…PADAMU
TERLALU…CINTAKU
HINGGA KUTAK SADAR DIRI (28-09-08)
HINA…
ALUNAN KATA TERBESIT DALAM,
HATI TAK PERNAH MENGERTI
UNTUKMU…BUKAN UNTUKKU
TANGISAN TEREDAM DALAM
JANTUNG TAK BERDETAK
UNTUKMU…HINAKU
HINA…HINAKAH AKU…
HINA…DI MATAMU
MEMINTA KESEKIAN KALI
MEMINTA DENGAN HINAKU
MEMOHON DENGAN HINAKU
TAPI AKU TAK AKAN BERHENTI
SAMPAI KAU MAU (12-10-08)
TAK ADA…
TAK ADA YANG SEPERTIKU
TAK ADA YANG MENGERTIKU
MIMPI-MIMPI LELAPKAN SEMUA
DALAM DUNIA…
TAK ADA YANG SEPERTIKU
TAK ADA YANG MENEMANIKU
DALAM GUNDAH
KU SELALU SEPI
TAK ADA YANG MENGAGUMI
TAK ADA YANG MENCINTAI
TAK ADA YANG MENGERTI
TAK ADA YANG MEMILIKI (20-10-08)
SISKA
SISKA…
TERDAMPAR AKU DALAM CINTA
TERHANYUT AKU TIADA MAKNA
INGINKAN SESUATU DARIMU
SISKA…
GEMULAI INDAH WAJAHMU
BENAMKANKU DALAM MIMPI
SAMPAIKU MATI
SISKA…
MANJAKU KARNAMU
MATIKU KARNA CINTAMU
SAKITIKU SETIAP WAKTU
HANCUR
PERJALANAN MENUJU ISTANA
KUISI WAKTU DENGAN PENUH MAKNA
TERTATIH KUTAK MAU TAU
HATIKU TERLALU HANCUR UNTUK BERTAHAN
PERJALANAN MENUJU KEMAUAN
TELAH RUNTUH TERTIMPA CINTA
TERTIMPA RASA YANG TAK ADA MAKNA
HINGGA HIDUP MENUJU KEHANCURAN
DAN KINI AKU TERLARUT
DALAM HATI KEHANCURAN MENEMANI
MENEROBOS RUANG GELAP
PENUH CAHAYA TAK TERJELMAKAN
OLEHKU…DI UJUNG WAKTUKU…
JAUH
TAK LAGI SEPERTI DULU
PENUH TAWA MELEWATI WAKTU
TAK LAGI SEPERTI AKU DULU
JAUH BERBEDA DAN TAK SAMA
TAK LAGI ADA KATA BAKU
JELMAKAN CINTA DI DADA
HINGGA HABIS PENUH SIKSA
BAGI HATIKU…JAUH DI HATIMU
JAUH, SUDAH AKU TERLUKA
BERSEMBUNYI MENEMANI SEPI
INGIN PERGI
TAPI, ENTAH KE MANA?
HABIS
MENATAP LANGIT
MENJUAL DIRI
TAK PERNAH BERARTI
MENGINJAK BUMI
MENGEJAR HARTA
TAK AKAN BERNYAWA
MENATAP LANGIT
MENCARI ARTI
TAK PERNAH MEMILIKI
MENATAP PERIH
MENJUAL DIRI
TAK ‘KAN PERNAH LAGI
TAK PERNAH
WAJAHMU SINARKAN CAHAYA
GEMULAIKANKU
MANJAKANKU
MIMPIKANMU
HATIMU…CINTAMU
SAKITI AKU
LUKAI AKU
CINTAMU DAN CINTAKU
TAK AKAN PERNAH SATU
HINGGA SANG ILAHI DATANG MENJEMPUTKU (d)
HIDUP
TANGAN PENUH LUKA
MENYISIRI TERIK MATAHARI
TAK ADA KATA LELAH
MENGEJAR MIMPI
HATI TERTEPI
LABUHKAN LUKA DI BAWAH SEMUA
MENGEJAR MIMPI
DI BAWAH TERIK MATAHARI
HIDUP ITULAH HIDUP
SELALU ADA KEBUTAAN
SELALU ADA KENIKMATAN
PENUH DENGAN KEBOHONGAN
PENUH DENGAN KESUCIAN
DAN PENUH DENGAN KEMUNAFIKAN
DI SAAT HIDUP
BENAR-BENAR HIDUP
HIDUP KARENA HARTA
HIDUP KARENA TAHTA
TAK AKAN BERMAKNA (D)
DAN BERKATA
PELANKAN LANGKAH
TUNDUKAN KEPALA
DI HADAPAN YANG MULIA
KUASAI SEMUA
TEGAKKAN MUKA
DI HADAPAN YANG LEMAH
PENUH KEBOHONGAN
BERLUTUT DAN BERKATA
“AKU ADA UNTUK YANG MULIA”
PENUH KEJUJURAN
TEGAK BERDIRI DAN BERKATA
“AKU ADA UNTUK MENGADA-NGADA”
KUASAI SEMUA
DAN BERKATA
“AKU ANJINGKU”
DI HADAPAN SANG RAJA
SISKA 2
SISKA...WAJAHMU TAK AKAN TERLUPA
DISAATKU CAMPAKKAN CINTA
PENUH DENGAN LUKA
SISKA...SENYUMANMU TAK AKAN HILANG
SAAT KUINGIN HAPUS DIRIMU
UNTUK SELAMANYA
SISKA..NADI BERHENTI
INGATKANKU PADAMU
DI SETIAP WAKTUKU
SISKA...BETAPAKU MENCINTAI
TERSIKSA AKU KARENA CINTA
CINTAKU PADAMU TAK TERBATAS WAKTU
SISKA...INGINKU KEJAR DIRIMU
KUTAK AKAN TAHU
MALUKU TAK SEPERTI DULU
ENTAH MENGAPA KAU TOLAK CINTAKU
SISKA...INGINKU DEKATMU
MENDEKAP PELUK RINDUKU
PADAMU SEUMUR HIDUPKU
SISKA...CINTAKU HANYA UNTUKMU
SAMPAI KAPAN KUTAK AKAN TAU
SAMPAI MATI PUN KAU JUGA AKAN TAU
SISKA...BIARKAN WAKTU BERLALU
CINTAKU TAK KAN PUDAR
SAMPAI KUHABISI WAKTU
SISKA...MEGERTILAH AKU
PAHAMILAHKU
KUCINTA PADAMU SEUMUR HIDUPKU
SISKA...BIARKAN WAKTU MENUNGGU
SAATKU TELAH PULANG
DAN TAK AKAN KEMBALI
SISKA...OH SISIKA...
MENGERTILAH AKU...
HUJAN
KURASAKAN DAMAI DALAM DEKAPAN SUNYI
DALAM DERASNYA AIR JATUH KE BUMI
MENYIRAMI DUKA DI DADA
AKAN CINTA,
YA... AKAN CINTA YANG KANDAS KARENA HARTA
HUJAN, BASAHI KELAMKU
SIRAMI NURANIKU
PADAMKAN AMARAHKU
AKAN CINTA KARENA HARTA
HINGGA AKU KAN MATI KARENA CINTA...
LELAHKU…
SELALU AKU TERTAHAN DALAM MIMPI
HINGGA PAGI TAK PERNAH KUTEMUI
LELAPKU DALAM MIMPI
DI MANAKAH DIRIKU…
KAPAN…SEMUA ’KAN BERAKHIR
DI MANA…TEMPAT SEJATIKU
KE MANA KUHARUS PERGI…
MENGUBUR LELAHKU…
MATI…
JEMPUTLAH AKU
MATI…
KUTAK MAU TERMANJA OLEH MIMPI
MEMILIKI TAPI DISAKITI…
MATI…AKU DI SINI MENUNGGUMU
KU TAK MAU HIDUP
DI DUNIA SEPERTI INI (20-10-08)
Selasa, 06 Januari 2009
Mimpi Kelamku
Hujan, telah lama aku nanti dan saatnya kunikmati hujan dalam arus nikmatnya dunia. Aku larut dalam kelamnya malam, menunggu hujan hadir dan menyelimuti jeritan hatiku yang terdalam. Jeritan akan keniscayaan hidup, yang penuh dengan kedustaan. Dan di saat-saat hujan datang menemaniku, kutemui seseorang yang tak pernah aku kenal sebelumnya. Seseorang berpakaian serba putih, memegang dan memeluk erat tubuhku yang penuh luka. Luka akan neraka dunia, yang semakin hari semakin tak terpatri lagi. Aku larut dalam belaian mesra itu dan membuatku tak sadarkan diri akan nikmatnya hujan di malam seperti ini.
”Kamu siapa?” Aku coba untuk bertanya pada seseorang yang begitu mesra memelukku. Aku serasa tak ingin lepas dalam dekapan itu. Seperti dekapan ibuku yang penuh sayang dan cinta padaku. Tak ada jawaban yang kudengar. Tubuhku semakin tak karuan menerima pelukkan itu. Aku benar-benar larut dalam hujan dan dinginnya malam yang tak sempat aku rasakan beberapa hari ini. Aku mencoba untuk melepaskan pelukkan itu, tapi tak mampu. Aku bahkan tak tahu, siapakah dia, perempuan atau...Tapi aku tak mau tahu, aku harus coba menikmati dekapan ini. Dekapan cinta tanpa ada harganya. Kapan lagi aku dipeluk seperti ini. Sampai mati pun aku tak akan mendapatkan pelukan ini, jika harus menunggu Fransiska. Ya..gadis yang mencuri hatiku.
Pelukkan mesra yang sedang aku rasakan tak sedikit pun hilang. Aku semakin melayang mengitari luasnya dunia ini. Dunia yang penuh dengan warna. Warna yang sesekali berganti, dari putih hingga hitam. Hitam yang selalu penuh dengan kelam, penuh dengan kematangan akan penindasan. Sampai ke negeri yang sedang merasakan euforia akan pemimpin barunya, aku pun sempat merasakan hal itu. Tapi tak sedikit pun aku merasa kelamnya hatiku terobati, mungkin juga kelamnya negeriku. Hingga harapan yang terlalu besar sirna semua. Dari negeri yang begitu maha di dunia ini, aku melayang ke negeri tempat lahirnya Lavezzi sampai ke negeri Ratu Elisabeth. Di negeri Lavezzi, aku begitu menikmati atmosfir sepak bola yang hampir sama dengan di negeriku. Sepak bola yang sama saja dengan ring tinju. Ring tempat perturahan nyawa.
”Kamu mau ke mana?” Seseorang berbaju merah memanggilku sambil memegang pundakku yang penuh beban akan kehidupan. Aku semakin tak yakin dengan apa yang baru saja aku lihat. Bukan hanya seseorang, tetapi lebih dari itu. ”Aku mau ke mana pun, asalkan itu bisa membuatku jauh dari kelamnya negeriku.” ”Kamu mau ke mana?” Pertanyaan itu terulang lagi.” Aku hanya menarik nafasku dalam, coba sabar. Perlahan aku jawab, ”Ke mana pun, asal itu bisa membuatku jauh dari negeriku yang paling kelam.” Aku berharap jawabanku dapat dimengerti oleh orang-orang yang begitu asing bagiku. ”Kamu mau ke mana?” Baru saja aku berharap jawabanku itu dapat dimengerti mereka, tapi pertanyaan itu telah terulang lagi. Aku semakin binggung, apakah mereka tak mengerti bahasa yang aku gunakan. Apakah bahasa yang aku gunakan kurang efektif hingga mereka terus bertanya. Apakah bahasa yang aku pakai tidak terstruktur, hingga pertanyaan itu terulang lagi. Atau apakah bahasaku tak mengikuti kaidah? Ah...buat apa aku pikirkan.
Menjengekkan jika aku harus mengulang itu-itu saja. Seperti saatku meluapkan cinta di hadapan Fransiska. Burung kakak tua mungkin tak mau mengulang seperti itu. Tapi, aku tak boleh begitu. Jangan-jangan mereka adalah orang di sini dan tak tahu negeriku. Ah...tidak mungkin mereka tak tahu sedikit pun tentang negeriku. Bukankah beberapa waktu yang lalu di negeriku tersiar kabar yang mendunia. Kabar yang tak menyedapkan, tapi sangat dinanti, sebagai balasan akan tindakan murka sebagian umat manusia.
”Where do you from?” aku tanyakan dengan bahasa yang terbata-bata. Maklumlah, bahasa itu kurang mendaging dalam tubuhku. Aku berharap mereka dapat mengerti saat aku menggunakan bahasa itu. ”Kamu mau ke mana?” Suara itu kembali terdengar. Semakin menjengkelkan saja tingkah orang-orang ini. Tapi anehnya, bukan hanya seseorang yang mengucapkan itu, mereka serentak dan terdengar merdu. Ya...semerdu suara Ariel, dan pastinya tak sesumbang suaraku saat bernyanyi.
Lalu mau apa lagi orang ini, sampai-sampai aku gunakan bahasa dunia itu pun mereka belum mengerti. Ingin rasanya aku pergi, tapi mau ke mana. Apa mungkin mereka ini orang dari langit, sehingga tak akan pernah mengerti bahasa manusia. Ataukah mereka ini sama dengan Fransisika, yang tak pernah mengerti untaian kata cintaku. Ah...pastinya mereka ini orang negeriku juga. Di negeriku kan biasa, orang mengulang apa yang sebenarnya pernah dilakukan, sekalipun itu sangat buruk. Yang pastinya, jika mereka juga adalah orang bangsaku, mereka adalah korban kesalahan pengajaran bahasa selama ini. Korban struktur dan korban teorisme yang sering terjadi di kelas-kelas, seperti di kelasku selama ini.
Dari negerinya Lavezzi, aku berharap dapat lari dari orang-orang yang memuakkan itu. Aku berharap memperoleh ketenangan dan kedamaian. Di suatu tempat, aku berhenti sejenak untuk membeli sebatang rokok, berharap melepaskan dahagaku. Tapi anehnya, aku merasa pernah mengunjungi tempat ini. Sepi, tak ada keramaian dan suara ribut mesin-mesin tronton di sepanjang jalan. Seperti yang sedang terjadi di kota tempatku menggapai mimpi.
”Pak beli satu batang rokok.” Aku serahkan uang Rp 1.000 kepada bapak berbaju hitam dan serba hitam itu. Saat menyerahkan sebatang rokok kepadaku, bapak itu juga mengembalikan uangku. Tapi, aku terkejut dan bertanya, ”Benar Pak, kembaliannya ini?” Lelaki itu, hanya diam dan menganggukan kepalanya. Wah, beda sekali dengan di negeriku. ”Kalau begitu saya beli tiga lagi Pak, dan satu indomie!” Kataku sambil menyerahkan uang kembalian itu. Aku masih merasa binggung saat meninggalkan tempat itu. Dengan uang sejumlah itu aku bisa memperoleh tiga batang rokok, dan hanya perlu Rp 500 aku bisa memperoleh satu bungkus indomie. Andai saja di negeriku seperti ini, tentu tak akan ada orang yang mati kelaparan dan mengalami busung lapar. Ya...Busung lapar.
Saat aku mulai jauh dari warung bapak berbaju hitam itu, aku baru sadar mengapa aku tidak membeli sebanyak mungkin barang itu. Membeli sebagai persediaan di kosku, kan lumayan dapat membuat kantongku tak terlalu boros. ”Ah...lebih baik aku kembali ke tempat itu. Kapan lagi aku mendapatkan barang dengan harga seperti itu. Sesuatu yang tak mungkin terjadi di negeriku, apalagi di zaman seperti ini.” Namun, saat aku kembali ke tempat itu, tak ada lagi kutemui sebuah warung. ”Di mana warung itu?” Aku bertanya dalam hatiku. Warung itu tidak ada lagi, yang aku jumpai hanya tebaran sampah yang baunya begitu menyengatkan. Dan terlihat ada seseorang yang sedang sibuk mengumpulkan sampah itu. ”Permisi...warung di wilayah ini ada di mana ya Pak?” Aku bertanya pada lelaki berbaju putih itu, dengan segala keraguanku. Aku tak mengerti mengapa warung yang tadinya persis ada di sini tidak ada lagi.
Alangkah terkejutnya aku, saat aku lihat bahwa orang yang baru saja aku tanya itu adalah bapak berbaju hitam yang tadi aku temui di warung supermurah itu. Aku seakan tak percaya. ”Bapak kan yang tadi ada di warung itu?” Aku coba mencari tahu dan meyakinkan bahwa dugaanku tak salah. ”Warung mana?” Kata bapak itu, sambil tersenyum ramah padaku. ”Ah...Bapak jangan berpura-pura. Tadi saat saya membeli rokok, kan Bapak yang ada di warung itu?” ”Ah Adik ini bercanda saja.” Bapak itu tidak yakin dengan apa yang aku tanyakan. ”Serius Pak, beberapa menit yang lalu saya membeli rokok dan indomie di warung Bapak. Masa’ bapak tidak ingat?” ”Warung...?” Bapak berbaju putih itu tampaknya bingung dengan apa yang aku tanyakan padanya. Tapi rasanya aku tidak salah, bapak ini yang aku temui di warung itu tadi. Warung yang harga barangnya begitu murah.
”Adik tampaknya salah orang. Jangankan warung, rumah saja saya tak punya. Memang Adik tadi pergi ke warung mana. Rasanya di wilayah ini, warung tidak ada. Saya dan warga kampung membeli barang di sana.” Bapak itu coba meyakinkanku, sambil menunjuk ke arah barat. Dari wajahnya dapat aku lihat suatu kejujuran dan tidak ada sedikitpun kepura-puraan. Yang jelas Bapak itu tidak seperti Fransiska, yang penuh dengan kepura-puraan, dan membuatku hatiku hancur.
”Pak, benar apa yang dikatakan Bapak tadi. Soalnya, tadi saya temui warung di sini.” ”Ah Adik ini, tidak percaya sama saya. Lantas, mengapa Adik kembali lagi, tadi kan Adik bilang sudah membeli rokok dan indomie?” Bapak itu balik bertanya kepadaku. ”Saya berencana mau membeli sebanyak mungkin barang di ditu, soalnya harga barang di situ murah Pak. ”Dari mana adik tahu murah?” ”Yah...ini buktinya rokok yang saya hisap dan indomie yang saya pegang ini,” aku menunjukkan rokok dan indomie yang tadi aku beli. ”Memangnya berapa harganya?” ”Semuanya hanya Rp 1.500.” Bapak itu kelihatannya tidak percaya dengan apa yang kukatakan. ”Ah...adik ini ngawur. Tidak mungkin dengan uang begitu adik mendapatkan empat batang rokok dan satu bungkus indomie.” ”Benar Pak, saya tidak sedang berbohong.”
Semua yang aku katakan tampaknya tak akan dimengerti Bapak itu. Sambil mengangkat karung yang penuh dengan sampah itu, ia berkata, ”Di zaman seperti ini tidak ada harga barang yang semurah adik katakan itu. Harga seperti itu adanya saat Bapak masih kecil. Jangankan yang adik sebutkan tadi, harga sampah ini saja belum tentu cukup untuk membeli barang-barang yang adik sebutkan tadi. Adik sedang bermimpi sepertinya?” ”Saya tidak sedang bermimpi. Kalau saya bermimpi, indomie dan rokok ini?” Bapak itu hanya diam dan kemudian berkata, ”Kalau memang yang adik katakan itu benar, sekarang adik ikut saya mengabarkan berita ini kepada teman seprofesi saya yang ada di sana.”
Bapak itu bermaksud mengajakku memberi tahu teman-temannya. Ya..tentu para pemulung juga. Baru saja ingin aku jelaskan kepada Bapak itu bahwa sebaiknya aku dan dia saja yang mencari tahu dulu di mana warung itu. Tetapi, di hadapanku sudah tak ada lagi sampah-sampah yang bertebaran bersama Bapak berbaju putih itu, yang ada malah aku melihat gadis pujaanku sedang menyantap makanan bersama seorang lelaki di meja paling kanan. ”Mana Bapak itu?” Aku bertanya dalam hatiku, sambil mengalihkan pandanganku dari Fransiska, pencuri hatiku.
Semuanya terasa aneh. Tiba-tiba aku sudah berada di hadapan Fransiska. Lalu Bapak dan sampah-sampah itu ke mana. Apa ini yang disebut kiamat sudah dekat. Ah...buat apa aku memikirkan itu, lebih baik aku menikmati wajah Fransiska. Kapan lagi aku dapat menikmati sepuas-puasnya, kalau tidak sekarang. Daripada aku menunggu saat berada di kelas, aku pastinya tak akan pernah berani memandangnya. Tapi, siapa lelaki yang ada di sampingnya. Apakah itu pujaan hatinya, seperti yang dikatakan Irma. Lelaki yang sedikit lebih berada, tapi tak lebih tampan dariku. Keberadaannya itu yang mungkin menarik hati Fransiska. Ya, Fransisika kan tak lebih dari iseng-iseng berhadiah. Toh, dia kan termasuk gadis yang selalu menginginkan lelaki yang seperti itu. Tak seperti aku, tak lebih berada dari Bapak misterius yang aku temui tadi.
Kucoba untuk menikmati wajah manis Fransiska, walau wajah itu pernah membuatku terluka. Tapi, semuanya berubah. Saat aku lihat gadis pujaan hatiku itu menangis. Tampaknya ia merasakan lima jari lelaki brengsek itu. Aku hanya bisa diam dan sedikit marah terhadap kelakuan lelaki itu. Ia telah berani menampar wajah manis kekasih impianku itu. Andai saja aku bisa, akan aku balas perlakuan lelaki itu. Tapi, aku kan tak lebih dari seorang pecundang. Ya...pecundang cinta, bukan untuk dunia. Aku kembali bingung, apa aku harus mendekati Fransiska dan menjadi seperti lelaki yang ada di sinetron-sinetron itu. Menghapus air mata dan coba menenangkannya. Inilah kesempatan bagiku untuk menunjukkan semuanya kepada Fransisika. Aku harus meyakinkan dia bahwa aku bukan lelaki yang sudah membuatnya menangis.
Aku yakinkan pada diriku bahwa inilah saatnya, untuk menunjukkan rasa sayangku. Aku harus menghampiri dan memberikan rasa tenang kepadanya. ”Sudahlah, Ika jangan menangis.” Aku usapkan air matanya dengan penuh rasa sayang. Baru inilah aku merasakan bagaimana mengusap wajah cantiknya Fransisika. Aku gemetar. Aku berharap semoga ini menjadi awal semuanya. Aku bisa menunjukkan rasa sayangku padanya, meskipun telah berulangkali aku ditolak dan disakitinya. Saat Fransiska memandangku, aku terhentak dan aku lihat sesuatu di sinar bola matanya. Sesuatu yang membuatku begitu jatuh hati kepadanya, sampai kapan pun. Aku rasa ia tidak keberatan dengan kehadiranku. Ia mungkin mulai menyadari arti pentingku baginya. Harapanku mungkin terlalu besar. Tapi, aku tak mau saat-saat seperti ini berlalu begitu saja, aku harus memeluknya. Memberikan rasa tenang. Wanita kan paling mau diperhatikan. Kucoba memeluknya, dan berusaha memberikan ketenangan padanya. Tapi...saat kucoba memeluk mesra tubuh Fransiska, aku sadar bahwa aku sedang memeluk seorang lelaki yang ada di sampingku. Lelaki yang tak lain adalah abangku. Ah...aku hanya bermimpi rupanya.
Aku terbangun dan meraih handuk untuk membasuh mukaku yang penuh luka. Saat aku pergi ke belakang rumahku, kulihat seseorang yang sedang mengumpulkan sampah. Dan aku rasa aku mengenalnya. Tak salah lagi, dialah Bapak yang aku temui tadi. Inginku hampiri, tapi aku tak berani, aku takut itu bagian dari kelamnya mimpiku. Kelam untuk menenggelamkanku dalam derasnya arus harta di dunia ini. Dalam kesusuhan yang sedang dialami bapak berbaju putih atau hitam itu, ataupun kekesusahan yang sedang dirasakanku saat ini. Kesusahan akan hidup yang penuh dengan tuntutan dan selalu diukur dengan mistar harta dan tahta.
”Hei...” Ku dengar seseorang memanggilku. Saat kulihat, aku diam dan tak tahu apa yang harus aku lakukan. Suara itu adalah suara merdu kekasih pujaan hatiku. ”Apa aku sedang bermimpi?” Tanyaku dalam hati.
Jumat, 14 November 2008
UNTUKMU YANG TAK PERNAH MAU
JANGAN KAU KEMBALI
Apalah artinya hidup ini bila terus menyepi
Apalah artinya cinta ini bila terus menyakiti
Tidakkah kau sadari telah sakiti aku
Tidakkah kau pahami telah kecewakanku
Dengan sikapmu, acuhkan aku
Dengan sikapmu, khianati aku
Pergi saja, jangan kau kembali
Pergi saja, jangan kau dustai
Pergi saja, jangan kau kembali
Pergi saja, jangan kau lukai
KUHARUS LUPAKANMU
Tak mampu diriku terus begini
Tak mampu diriku terus menunggu
Dirimu, yang kumau
Kusadari kutak akan bisa
Kuyakini kutak akan mampu
Memilikimu...memilikimu
Kuharus lupakanmu
Kuharus tinggalkanmu
Walau aku, masih menginginkanmu
Kuharus lupakanmu
Kuharus tinggalkanmu
Karena aku bukanlah untukmu
HANYA DIRIMU
Tak habis kata memukau suara
Tak habis cinta untukmu...
Hasrat di dada tak akan bicara
Hasrat di sukma hanya ada kamu...
Akan mampu kumenunggu dirimu selalu
Akan mampu kumenunggu dirimu...
Hanya dirimu yang membuatku rindu
Hanya dirimu yang membuatku terbelenggu
Hanya dirimu yang membuatku menunggu
Kepastian cintamu padaku...
TERLALU BODOH
Mungkin aku tak bisa mencintaimu
Mungkin aku tak akan memilikiku
Tapi aku akan terus berusaha
Tapi aku tak akan pernah putus asa
Andai kau pahami sikapku
Andai kau pahami lakuanku
Mungkin aku tak akan terus begini
Mungkin aku tak akan bermimpi
Terlalu bodoh diriku
Harapkan cinta dan tubuhmu
Terlalu bodoh diriku
Lukiskan cinta dan hasratmu
Selalu...Untukku
Sampai Kapan???
Terlalu sedih bagiku jika harus larut dalam duka akan cinta yang tak pernah berarah bagiku. Kesekian kalinya aku hancur oleh cinta. Sejati cintaku tak pernah berpihak padaku yang selalu haus akan kasih sayang seorang kekasih. Kekasih yang melebihi apa pun bagiku. Kekasih yang dapat membuatku bersemangat untuk melewati indahnya bintang-bintang yang selalu setia menemani kesepian hatiku. Kesepian akan cinta, akan kasih sayang, dan belaian lembut seorang kekasih.
Malam menjadi saksi kehancuran hatiku untuk kesekian kalinya. Malam kubuat menangis untuk mengiringi kegundahan hatiku ini. Hati yang tak pernah bermakna di hadapan sosok gadis impianku. Gadis yang tak ada ubahnya dengan semut, kecil tapi menyakitkan. Entah bagimana aku di hadapan mereka. Apa aku kecoa, apa aku kucing, dan apa aku ANJING!!! Kehadiran mereka hanyalah kehancuran bagiku. Kecantikan mereka telah membunuh hatiku. Membunuh segala semangat hidupku untuk terus menjadi diriku sendiri. Mereka hanya dapat membuatku menjadi yang terbodoh di antara ilalang yang ada di sekitarku. Mereka menenggelamkanku dalam indahnya dunia yang penuh akan nafsu belaka. Mereka hanya melihatku dari satu sisi. Sisi yang tak pernah aku sukai. Sisi dari tamaknya dunia ini, dan sisi yang selalu diukur dari harta dunia ini.
Aku terlalu lelah jika harus selalu seperti ini. Menyimpan segudang rasa sakit, yang dapat memusnahkanku dari mimpi akan dunia ini. Mimpi-mimpi indah akan cinta sejati yang tak pernah aku temui sampai saat ini. Aku hanya bisa terpaku menunggu, mengiringi pedih hati ini. Di mana cinta sejatiku, aku tak pernah tahu. Apa cinta sejatiku memang tak pernah ada? Apa aku terlalu muda untuk mengenal cinta sejati? Hanya pedih yang dapat menjawab semuanya. Kepedihan akan kemunafikan dunia yang selalu dipandang lewat harta. Harta yang tak pernah akan aku miliki sampai kapan pun. Harta yang bukanlah ukuran bagiku. Seperti apa yang selalu selalu gadis-gadis impian itu lakukan padaku. Aku hanya ingin hidup layak, memiliki, dan mencintai dengan segenap hatiku. Aku tak mau harta menjadi yang segala-galanya. Menjadi ukuran untuk semua yang ingin aku lakukan untuk hidup ini. Seperti cinta gadis impianku, selalu karena harta dan nafsu saja. Munafik bukan!
Harus kuakui aku bukan orang yang memiliki segala-galanya. Jangankan untuk memiliki, merasakan saja aku tak akan pernah mampu. Hanya mimpi yang dapat menghantarkanku pada hal-hal yang seperti itu. Menghantarkanku pada dunia cinta, dunia yang selalu ada di hayalanku. Tapi...sampai kapan aku harus menunggu. Menunggu para pecinta sejati mengisi relung hatiku yang penuh dengan luka. Luka akan kenyataan hidup yang sedang aku rasakan. Luka karena kata-kataku sendiri. Kata-kata yang tak setajam diriku, setajam lakukanku, dan setajam pikiranku. Menyedihkan sekali jika aku harus terus menjadi diriku seperti saat ini. Sampai kapan juga aka harus tertidur dalam luka akan cinta. Sampai kapan aku harus bermimpi. Sampai kapan aku harus merasakan pedih. Sampai kapan aku akan terbangun. Sampai kapan aku akan mendapatkankan cinta sejati dari seorang gadis yang mencintaiku apa adanya. Mencintaiku bukan karena harta. Mencintaiku bukan karena satu sisiku. Dan sampai kapan aku akan temukan diriku sendiri. Entah SAMPAI KAPAN??????????
Kamis, 13 November 2008
Pemenang adalah Orang yang Memenangkan Orang lain
Pemenang tidak selamanya menang. Seseorang tidak akan menjadi pemenang jika ia tidak berusaha dengan sepenuh hati dan tanggap terhadap berbagai persoalan yang ada di sekitarnya. Kemenangan mungkin didapatkan seseorang melalui kerja keras. Kemenangan juga akan didapatkan seseorang jika ia belajar untuk disiplin melakukan semuanya. Namun, percuma saja seseorang menang, kalau kemenangannya itu malah menyengsarakan sebagian orang, dan percuma saja ia punya segalanya, kalau yang ia dapatkan itu dari hasil merugikan orang lain.
Pemenang yang dikatakan menang, adalah seseorang yang selalu berusaha mencapainya dengan kerja keras, jujur, adil, dan tidak merugikan orang lain. Jika seseorang sudah melakukan tugasnya dengan kerja keras, disiplin, dan tidak merugikan orang lain, ia sudah dapat dikatakan seorang pemeang. Lebih baik lagi jika kemenangan yang ia dapatkan adalah hasil memenangkan orang lain. Dengan kata lain pemenang adalah orang yang mengalah untuk menang. Jadi, seorang yang dikatakan pemenang adalah orang memiliki daya juang dan semangat yang tinggi. Lebih dari itu, seorang pemenang adalah orang yang selalu berusaha meletakkan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi/golongan. Orang yang demikianlah yang pantas untuk menang, dan pantas mengangkat kedua tangannya ke atas. Karena pada hakikatnya, mereka adalah orang yang berjiwa besar untuk merelakan suatu kemenangan, kebahagian, dan keramaian untuk kemajuan bersama.
SISKAKU
DISAATKU CAMPAKKAN CINTA
PENUH DENGAN LUKA
SISKAKU...SENYUMANMU TAK SIRNA
SAAT KUINGIN PERGI
UNTUK SELAMANYA
SISKAKU..NADI BERHENTI
INGATKANKU PADAMU
DI SETIAP WAKTU
SISKA...BETAPAKU MENCINTAI
TERSIKSA AKU KARENA CINTA
CINTAKU PADAMU TAK TERBATAS WAKTU
SISKA...INGINKU KEJAR DIRIMU
KUTAK AKAN TAHU
MALU KUTAK SEPERTI DULU
ENTAH MENGAPA KAU TOLAK CINTAKU
SISKA...INGINKU DEKATMU
MENDEKAP PELUK RINDUKU
TAPI KUTAKMAMPU
SISKA...CINTAKU HANYA UNTUKMU
SAMPAI KAPAN KUTAK AKAN TAU
SAMPAI MATI UNTUKMU
SISKA...BIARKAN WAKTU BERLALU
CINTAKU TAK KAN PUDAR
SAMPAI KUHABISI WAKTU
SISKA...MEGERTILAH AKU
PAHAMILAHKU
KUCINTA PADAMU SEUMUR HIDUPKU
SISKA...BIARKAN WAKTU MENUNGGU
SAATKU TELAH PULANG
DAN TAK AKAN KEMBALI
UNTUK SELAMANYA
SISKA...OH SISIKA...
MENGERTILAH AKU...
HANYA UNTUKMU...