Rabu, 26 Mei 2010


Mencoba Mengenali Jati Diri
Tidak semua orang seperti aku. Aku punya karakter sendiri. Itu jelas adalah cermin dari pribadiku. Tapi, di balik semua itu, ada hal yang membuatku tak tenang. Aku punya beberapa pertanyaan besar. Beberapa pertanyaan tentang jati diriku. Aku lahir di Teluk Telaga (sebuah dusun di Desa Padua Mendalam, Kecamatan Putussibau Selatan, Kabupaten Kapuas Hulu). Tapi, aku besar tak di situ. Hingga aku tidak terlalu kenal tentang budaya tanah kelahiranku itu. Untuk berbahasa dengan bahasa masyarakat di tanah kelahiranku saja aku tidak begitu fasih. Apalagi tentang budayanya.
Kini, beriring dengan waktu, aku merasa terpanggil untuk mengenal sedikit demi sedikit tentang budaya tanah kelahiranku itu. Budaya suku Dayak Kayaan Mendalam, yang semakin hari semakin membuatku tertarik. Aku mungkin telah beruntung bisa menjadi bagian dari masyarakat suku Dayak Kayaan. Aku juga beruntung memiliki orang-orang dekat yang selalu bersedia mengajariku tentang Suku Dayak Kayaan Mendalam.
Tulisan ini merupakan bentuk refleksi dari pencarianku. Sebuah refleksi yang tak akan pernah berhenti sampai kapanpun. Tak ada yang sempurna, begitu juga tulisan ini. Kritik dan masukan, sangat penulis harapkan. Semoga tulisan ini berarti bagiku dan bagi siapapun yang dapat mengartikannya. 

Berangkat dari Lingkup Pergaulan (1)
Beberapa bulan yang lalu, aku mendapatkan kesempatan yang berharga untuk bergabung dengan saudara-saudaraku generasi Dayak Kayaan Mendalam. Aku ikut serta dalam kegiatan rohani yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Nyaam Kayaan Medalam (PNKM) Pontianak. Sebuah perhimpunan yang besar artinya bagi generasi Dayak Kayaan Medalam yang ada di Pontianak. Lewat kegiatan itulah aku semakin merasa terpanggil untuk mengenal hal ihwal tentang budaya tanah kelahiranku.
Aku lupa, tepatnya tanggal berapa kegiatan itu dilaksanakan. Tapi yang pasti, pada bulan Januari. Kegiatan itu penuh arti bagiku dan mungkin bagi saudara-saudaraku yang ikut serta dalam kegiatan itu. Selain kami dapat berkumpul bersama dan saling mengenal. Jiwa kami juga semakin dikuatkan melalui khotbah yang disajikan dengan penuh makna oleh seorang pastor kebanggaan kami. Pastor Gregorius Haraan. Dia adalah salah seorang generasi Dayak Kayaan Medalam yang terpanggil untuk menjadi seorang pelayan sejati. Suatu kebanggaan bagiku dapat berkumpul dan mengenalnya.
Lewat kegiatan yang dilaksanakan selama dua hari itu, secara pribadi, aku mendapatkan pencerahan dalam diriku. Aku merasa, sudah selayaknya aku belajar tentang budaya tanah kelahiranku. Apalagi bahasanya. Aku sedikit malu dan juga iri. Aku tak terlalu fasih mengucapkan kata-kata dalam bahasa Dayak Kayaan. Tapi, yang jelas, setelah mengikuti kegiatan itu, aku melakukan sedikit perubahan di nama tampilan Facebooku. Awalnya, hanya “Maksimianus Deornay”. Kuubah menjadi “Maksimianus Hajaang Deornay”. Nama “Hajaang” merupakan nama pemberian dari kakek dan nenekku, sebagai suatu kewajiban bagi setiap generasi Dayak Kayaan Mendalam. Kewajiban untuk memiliki nama Kayaan.
Akhirnya, kuakhiri tulisan ini dengan sebuah senyum di hati. Aku sudah berani memulai. Meski lewat hal-hal kecil. Aku ingin menunjukkan kemauan besarku untuk mengenal budaya tanah kelahiranku, budaya Dayak Kayaan Mendalam.

Tidak ada komentar: