Sebongkah penyesalan datang menghampiri. Aku sendiri sadari itu di hati. Berulang kali kucoba melawan rasa ini, tapi kutak sekuat yang kuingini. Kesalahan ataukah kecerobohan, aku sendiri tak pahami. Kubiarkan semuanya mengalir, hingga gundah terpatri di sanubari.
Tanpa kusadari, beberapa cinta telah kumiliki. Aku seakan tak memercayai semua ini. Sedikit demi sedikit, aku semakin paham memainkan peran ini. Aku semakin terbiasa dengan apa yang sedang kujalani. Walaupun aku sendiri tahu ini tak sejalan dengan apa yang dinamakan dengan cinta sejati.
Kenyataan yang sedang kuhadapi seperti sebuah mimpi. Aku seolah berada dalam lingkaran waktu yang tak pernah terpikirkan selama ini. Aku bebas memilih cinta yang kuingini. Satu per satu, gadis kumiliki. Aku memang terkesan hebat untuk saat ini.
****
Saat ini, asa cinta di hatiku laksana sepotong roti. Aku bebas membelinya kapan pun kuingini. Aku pun bebas untuk membuangnya kapan pun kuhendaki. Semuanya terasa sangat mudah, lumrah, dan sungguh menggiurkan hati. Aku kian berfantasi.
Bayangan masa lalu, seakan tak pernah kupikirkan lagi. Album kenangan pahit tentang cintaku itu telah kukubur mati. Saat ini, cinta yang kudapati kubiarkan terjadi seperti yang kukehendaki. Aku sadari, inilah waktu untuk kujalani. Inilah saat yang tepat, saat-saat yang dulu sangat kuhendaki, tapi tak pernah kudapati.
****
Dalam sebuah perenungan di hati, aku mulai sadari. Cintaku kini bukanlah cinta sejati. Semuanya hanya pelampiasan dan pembalasan atas apa yang pernah kualami. Aku sesungguhnya belum dapat menentukan pilihan hati. Aku hanya terbawa cinta sesaat di hati. Unsur duniawi tak dapat kuhindari.
Kesadaranku akan kesalahan ini, harus segera kuakhiri. Aku tak mau lagi mempermainkan dan menyia-nyiakan bahnya hati. Tapi, aku sendiri pahami. Semuanya tak akan mudah untuk kulalui. Aku mungkin harus merelakan semua cinta itu pergi. Hingga suatu saat nanti, kutemukan satu cinta yang pasti. Cinta laksana matahari.
Pontianak, 20 Juli 2011
Senin, 30 Agustus 2010
“SBY, Mau Dibawa Kemana Indonesia?”
Konflik antara Indonesia dan Malaysia semakin memanas saja. Media massa di Indonesia—baik cetak maupun elektronik—terus menjadikan konflik itu sebagai berita terpopuler.
Belakangan ini, pelbagai judul berita di beberapa media massa Indonesia tampak sangat provokatif. Ada yang mengungkapkan jika “Malaysia Menantang”. Ada juga yang melihat jika kedaulatan RI terinjak-injak oleh Malaysia. Bahkan ada yang mengungkapkan jika genderang perang sudah saatnya ditabuhkan.
Gayungpun bersambut. Beberapa media massa di Malaysia tak tinggal diam. Ada yang menuliskan judul, “Tak Ada Kata Maaf Bagi Indonesia,” dan sebagainya. Itu bisa jadi bentuk respon terhadap berbagai aksi massa di Indonesia mendesak Malaysia meminta maaf kepada Indonesia.
Tak heran jika perseteruan antara Indonesia dengan Malaysia semakin memanas saja dengan adanya pemberitaan seperti itu. Apalagi, berbagai pihak atau elemen masyarakat banyak yang angkat bicara menyoal perseteruan ini. Ada pihak yang bicara dengan lantang bahwa sudah saatnya Indonesia memberikan perlawanan. Baik dengan cara wajar, ataupun tidak wajar. Wajar, tentu dengan berdiplomasi. Tidak wajar, dengan cara angkat senjata. Ada juga yang menuntut Presiden RI untuk memutuskan hubungan bilateral dengan Malaysia.
Berbagai aksi unjuk rasa di Indonesia pun semakin menambah panas perseteruan ini. Pemerintah Malaysia sampai berang, menyusul pelemparan kotoran manusia (tinja) ke kantor Kedutaan Besar (Kedubes) Malaysia di Jakarta. Aksi massa itu disebut-disebut Perdana Menteri Malaysia, Datuk Seri Anifah Aman sebagai aksi yang ditungganggi oleh salah satu partai poolitik di Indonesia. Pihak Malaysia pun menganggap jika aksi itu merupakan bentuk penghinaan terhadap negaranya. Tapi, Indonesia tetap tak bergeming. Pihak Indonesia tetap menuntut agar Malaysia minta maaf kepada Indonesia menyusul penangkapan tiga petugas Dinas Kelautan dan Perikanan di Peraitan Bintan, Kepulauan Riau.
Menyusul hubungan Indonesia-Malaysia yang semakin memanas, Pemerintah Indonesia melalui Menteri Luar Negeri, Marty Natalegawa, telah mengirimkan nota protes kepada Malaysia. Rencananya, pada 9 September 2010 akan diadakan perundingan dengan pihak Malaysia. Tentang nota dan perundingan itu, tentu masyarakat Indonesia atau Malaysia berharap banyak. Agar, konflik ini dapat segera dengan damai. Tapi, pertanyaannya, apakah dengan cara-cara itu konflik akan terselesaikan??? Kenyataan, sudah berapa nota protes yang dikirimkan ke Malaysia, tapi tak ada respon.
Berbagai opini liar berkeliaran. Pemerintah terkesan lamban dalam menyelesaikan konflik ini. Lambatnya Pemeritah RI dalam menangani masalah ini mendapatkan kecaman dari berbagai pihak. Berbagai masyarakat menyebut jika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tak responsif terhadap konflik Indonesia-Malaysia. Apalagi dengan gaya “kalem” SBY yang tak banyak bicara atau mengomentari masalah ini. Padahal SBY sering angkat bicara menyoal masalah yang sedang hangat di publik. Lihat saja komentar SBY menanggapi kematian sosok Mbah Surip, penyanyi yang populer dengan lagu “Tak Gendong”. Menjadi pertanyaan, apakah SBY tak menganggap serius masalah ini?
Jika SBY terus diam dan tak cepat meredakan situasi panas konflik ini, maka akan terjadi hal yang lebih buruk lagi. Perang mungkin akan terjadi. Tapi, masyarakat berharap banyak jika presidennya dapat meredam konflik ini. Jika memang SBY menganggap tak ada jalan damai untuk menyelesaikan konflik ini, masyarakat menunggu jalan lain. Apakah SBY akan mengkuti jalan presiden pendahulu, Bung Karno, yang dengan lantang menyuarakan “Ganyang Malaysia”.
Masyarakat Indonesia tak ingin resah dan dibingungkan dengan persoalan ini. Masih banyak persoalan yang terbentang luas di Indonesia dan membutuhkan solusi secepatnya. Lihat saja, aksi perampokan dengan berbagai modus operandi yang semakin meraja lela. Karena itu, biasa jadi masyarakat akan terus bertanya, “SBY, Mau Dibawa Kemana Indonesia?”
Suatu hari, aku bergegas pergi dari rumah. Aku ingin mewujudkan keinginanku. Keinginan yang telah lama aku tahan-tahan selama ini. Aku harus menggunting rambutku. Maklumlah, belakangan ini aku merasa jika rambutku terlalu panjang dan sedikit terlihat norak. Karena itu, terkadang aku merasa tak percaya diri saat berhadapan dengan orang lain.
Dalam perjalanan, aku bingung memilih salon mana yang tepat untuk menggunting rambutku. Ada satu salon yang pernah kukunjungi beberapa waktu yang lalu. Ingin ke situ, tapi aku malas. Soalnya, pelayanan di salon itu tak memuaskan. Akhirnya, aku pun memutuskan untuk pergi ke salon yang tak jauh letaknya dari tempat kerjaku. Aku pernah sekali ke salon itu. Waktu itu aku hanya mengantar temanku.
Sampai di salon itu, aku disambut oleh seseorang. “Bang, potong rambut,” kataku. Orang itu kemudian balik bertanya, “Model apa?” Kujawab, “Model Mohak.” Mohak adalah model yang cukup familiar bagi rambutku. Ciri khas dari model ini adalah rambut di tengah dibuat berdiri. Samping kiri dan kanan dipotong tipis. Ya, seperti model rambut David Beckham saat masih berkostum Real Madrid.
Tak ada yang salah, saat orang itu mulai menggunting rambutku. Aku hanya diam. Begitupun dengan orang itu. Ia terlihat begitu cermat memperhatikan model rambutku. Bagian demi bagian ia gunting. Setelah lama diam, orang itu kemudian bertanya. “Tinggal di mana?”
Aku kemudian menjawab, “Tinggal di sekitar ini Bang.”
Orang itu kembali bertanya, “Masih sekolah kah?”
“Masih Mbak,” kataku.
Setelah perbincangan singkat itu berlangsung, aku kemudian berpikir sejenak. “Wah, aku manggil apa. Mbak atau Mas ya?” Pertanyaan itu terlintas dalam pikiranku. Aku pun merasa tidak nyaman. Masalahnya, bukan hanya sekali aku tak konsisten dalam mengucapkan itu. Hampir lima kali. Aku jadi salah tingkah. Jangan sampai orang itu marah, mendengar aku memanggil dia dengan dua sebutan yang tak karuan itu.
Untung saja, sampai rambutku selesai dipotongnya, rasa takutku itu tak benar-benar terjadi. Orang itu enjoy aja dengan itu. Ia asyik berbincang. Malah memintaku untuk main-main ke salonnya. “Ya, kalau sempatlah,” jawabku atas permintaanny.
Setelah bertolak dari salon itu, aku menuju kantorku. Di kantor aku berpikir. Wah, jadi serba salah kalau sudah ke salon. Mau manggil tukang gunting itu dengan panggilan Mas, takut salah. Habis, sikap dan tutur katanya menyerupai wanita. Mau manggil dia Mbak, tampaknya nyata jika fisiknya menyerupai lelaki sejati. Ah, aku jadi bingung. Dunia ini semakin aneh….He….He…wkkwkwkwkwwkwkwkkww
25 Agustus 2010
Kamis, 19 Agustus 2010
Karena 60 ribu, Dua Wanita Itu Harus Dipenjara
Maksud hati hendak memungut brondolan sawit, sebagai tambahan penghasilan keluarga. Tapi, tak disangka harus berurusan dengan pihak kepolisian. Proses hukum yang panjang pun sudah menanti dan harus dijalani.
Sungguh malang nasib dua wanita ini. Belum juga lepas dari berbagai belenggu persoalan hidup ini, mereka harus dihadapkan pada persoalan lain yang lebih serius lagi. Oleh pihak PTPN XIII, keduanya dilaporkan ke kepolisian atas tuduhan pencurian 60 kg sawit di wilayah Kebun Inti PTPN XIII Kembayan. Keduanya pun sempat ditahan selama tiga hari (14 Mei s.d. 17 Mei 2010) di Polsek Tayan Hulu, Kabupaten Sanggau, sebelum ditangguhkan penahanannya.
Kedua wanita itu adalah Norweti dan Yulita Linda. Dua warga Dusun Sanjan Beras, Desa Pandan Sembuat ini tak hanya harus merasakan pahitnya tidur di sel tahanan selama tiga hari. Tapi, karena persoalan ini, keduanya kini harus meninggalkan pekerjaan rutin yang menjadi sumber utama kehidupan keluarga mereka di kampung. Berbagai proses hukum yang memakan waktu yang lama harus mereka jalani ke depannya. ”Saya bingung, capek, dan harus bagaimana lagi. Banyak pekerjaan di kampung yang terbengkalai,” kata Norweti ketika jumpa pers di kantor Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD-RI) Kalimantan Barat, Pontianak (8 Agustus 2010).
Norweti mengaku, karena kasus ini, ia juga harus mengorbankan anaknya, Icha. Anaknya terpaksa terlibat, karena dalam usia yang belia, tak mungkin anaknya dapat ditinggalkan. ”Kasihan anak saya,” katanya. Saat Norweti ditahan di Polsek Tayan Hulu, anaknya juga ikut bersamanya. Anaknya sampai-sampai sakit setelah beberapa hari dalam penjara. ”Anak saya sakit saat di kantor polisi. Malam-malam dia nangis terus,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Apa yang dialami oleh Norweti sama juga dengan yang dialami oleh Yulita Linda. Linda juga harus mengorbankan anak-anaknya. Anaknya yang kecil, Intan, harus ikut juga merasakan hidup di dalam penjara. Begitupun dengan suaminya yang terlibat juga dalam kasus ini. ”Anak saya dan anak ibu Norweti harus ikut juga tidur di kantor polisi,” kata Linda yang hadir juga dalam jumpa pers di kantor DPD-RI. Untung saja, saat itu mau polisi memberikan penangguhan hukuman. ”Itupun ditangguhkan karena anak kami sakit dan sering nangis-nangis,” ujarnya,
Suami Linda, Agung, terlibat dalam kasus ini karena ia tertangkap basah membawa dua karung brondolan sawit yang dipungut Linda dan Norweti. Oleh petugas keamanan PTPN XIII Kembayan, Agung kemudian diserahkan ke polisi. ”Saya diminta istri saya untuk mengambil sawit yang mereka pungut. Karena istri saya baru saja sakit dan tidak mampu membawanya. Dalam perjalanan, saya kemudian dihentikan oleh petugas PTPN XIII. Lalu kemudian dilaporkan kepada polisi. Setelah itu, saya ditahan. Istri saya dan Bu Norweti juga dipanggil ke kantor polisi,” cerita Agung.
Setelah beberapa bulan berlalu, kasus yang dialami Norweti dan Linda belum juga mendapatkan titik terang. Berbagai upaya sudah keduanya lakukan. Permintaan agar kasus ini diselesaikan secara damai juga sudah disampaikan kepada pihak PTPN XIII. Tapi, tidak ada tanggapan. ”Kami ingin kasus ini diselesaikan secara kekeluargaan. Kami pun siap jika dimintai ganti rugi atas sawit yang kami ambil,” kata Norweti. Brondolan sawit yang berhasil dikumpulkan oleh Norweti dan Linda sejumlah 60 kg. Jika diuangkan, seharga 60 ribu.
Senada dengan Norweti, Linda juga mengharapkan kasus ini dapat cepat selesai. Ia tak ingin kasus ini berlarut-larut lagi. ”Banyak pekerjaan di kampung yang harus diselesaikan. Kalau tidak kerja, kami mau makan apa,” kata Linda. Mengenai tuduhan pencurian terhadapnya dan Norweti, Linda tetap berkeyakinan bahwa mereka tidak mencuri. Mereka hanya memungut brondolan sawit yang jatuh ke tanah dan tidak digunakan lagi oleh perusahaan. ”Saya memungut agar uang untuk bayar SPP cukup. Jika kami dianggap mencuri, kami minta maaf dan berharap agar masalah ini diselesaikan secara kekeluargaan,” ujar Linda.
Ketidakjelasan nasib yang dialami oleh Norweti dan Linda membuat beberapa kalangan bersimpati. Seperti, dari Anggota DPD-RI daerah pemilihan Kalbar, Erma Suryani Ranik. Erma Suryani Ranik menyampaikan kekecewaannya terhadap pihak PTPN XIII yang tetap ingin melanjutkan proses hukum kasus Norweti dan Linda. Menurutnya, kasus ini seharusnya masih dapat diselesaikan secara kekeluargaan, tanpa proses hukum yang berlarut-larut. ”Kami sangat menyayangkan sikap PTPN XIII yang memproses hukum kasus pencurian ini. Karena, selain nilainya kecil, brondolan sawit yang diambil masyarakat juga sudah tidak dimanfaatkan oleh perusahaan," katanya. Dengan proses hukum yang berlarut-larut, katanya, akan sangat membebankan Norweti dan Linda. ”Kasihan mereka. Sudah hidup susah, harus menghadapi masalah seperti ini.”
Erma Suyani Ranik juga mempertanyakan bagaimana peranan pihak PTPN XIII terhadap masayarakat yang hidup di sekitar perkebunan. ”Bagaimana peranan mereka. Adakah bantuan untuk masyarakat,” ungkapnya. Untuk itu, ia pun sudah mengirimkan surat protes kepada Kementrian BUMN, karena perlakuan PTPN XIII yang tidak memperhatikan kehidupan masyarakat miskin.
Sebagai bentuk dukungan terhadap Norweti dan Linda, kata Erma Suryani Ranik, pihaknya telah menyediakan tujuh orang pengacara untuk mengawal kasus ini. ”Kami sudah siapkan tujuh pengacara, jika kasus ini sampai ke persidangan,” katanya. Ia sangat berharap, kasus ini dapat cepat diselesaikan dan ditempuh melalui jalur kekeluargaan. ”Kasihan rakyat miskin jika terus diperlakukan seperti ini,” ujarnya.
Maksi Hajaang
Toras Beroperasi Lagi, Masyarakat Kayaan Mendalam Resah
Masyarakat Kayaan Mendalam resah, dengan kembali beroperasinya PT Toras Banua Sukses (PT TBS) di wilayah Mendalam. Padahal, sudah berulang kali masyarakat menolak dan menuntut pemerintah untuk mencabut ijin operasi PT TBS. Dari bupati, hingga menteri sudah didatangi untuk meminta kepastian. Tapi, tak ada titik terang yang didapatkan.
Kisah perjuangan Masyarakat Kayaan Mendalam menjaga kelestarian alamnya, sudah lama dimulai. Masyarakat punya tekad yang kuat, agar tidak satupun perusahaan yang bergerak di bidang kehutanan masuk ke wilayah mereka. Mulai dari penolakan PT Lembah Jati Mutiara dan PT Puncak Sawmill, sekitar tahun 1990 s.d. 2000. Perjuangan itu tak sia-sia, dan berhasil mengusir kedua PT tersebut.
Berakhir cerita kedua PT itu, sekitar tahun 2005 datang lagi PT TBS. Pada tahun itu, PT TBS sudah melakukan survei di lapangan dengan mengantongi Ijin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu (IUPHHK) pada hutan alam seluas 22 ribu hektar di wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) Mendalam dan Sibau. Ijin itu berdasarkan keputusan Bupati Kapuas Hulu Nomor 522.11/105/PH/2002, tanggal 19 Februari 2002.
Dengan sebuah komitmen untuk menjaga tanah leluhur mereka, Masyarakat Kayaan Mendalam dengan tegas melakukan penolakan. Berbagai cara ditempuh untuk menghadang PT TBS. “Kami akan terus berupaya menolak PT Toras,” kata Benyamin Satar, Temenggung Kayaan Mendalam. Penolakan masyarakat sudah berulang kali disampaikan kepada Pemerintah Daerah Kapuas Hulu, bahkan ke Menteri Kehutanan yang saat itu masih dijabat oleh M.S. Kaban.
Anehnya, meski sudah mengetahui masyarakat menolak PT TBS, M.S Kaban malah mengeluarkan SK Menhut No 107/Menhut-II/2006. SK itu tentang pembaharuan areal IUPHHK pada hutan alam TBS yang semula seluas 22 ribu hektar bertambah menjadi 24.920 ha. Masyarakat kecewa dengan keputusan yang dikeluarkan M.S.Kaban. Meski upaya-upaya yang sudah dilakukan tak menghasilkan kepastian yang jelas, tapi masyarakat sudah berhasil membuat PT TBS tidak dapat beroperasi dari tahun 2005 hingga 2009.
Beberapa tahun tak kedengaran, cerita PT TBS mencuat kembali pada tahun 2010. Masyarakat Kayaan Mendalam panik, setelah mengetahui PT TBS beroperasi lagi. Meski tak langsung datang ke Mendalam, tapi masyarakat resah akan taktik baru yang dimainkan oleh PT TBS. “PT Toras sudah beroperasi lagi. Camp mereka di Lunsa,” kata Satar. Dengan strategi yang berbeda, tapi sasaran operasi yang sama, PT TBS memulai operasinya dengan mendirikan base camp di Desa Lunsa yang berada di DAS Kapuas. Desa Lunsa dijadikan sebagai “pintu masuk” ke DAS Mendalam dan Sibau. “Sekarang mereka (PT TBS) sudah membuka jalan perusahaan sampai ke Mendalam,” kata Satar.
Mengetahui bahwa PT TBS sudah membuka jalan sampai ke batas wilayah mereka, Masyarakat Kayaan Mendalam kemudian membuat pagar di batas wilayah Mendalam dengan Lunsa. Ritual adat dilakukan saat pemagaran itu. “Kami sudah buat batas, agar PT Toras tidak masuk ke wilayah Mendalam,” kata Satar. Tapi, menurut Satar, pagar yang dibuat itu malah dibongkar oleh sebagian pihak yang setuju dengan keberadaan PT TBS. “Pagar itu dibongkar,” lanjut Satar.
Setelah kejadian itu, keadaan di masyarakat semakin meresahkan. Berbagai isu mencuat ke permukaan. Konflik batas wilayah dan konflik antara masyarakat yang pro dan kontra PT TBS semakin sering terdengar. Yang lebih merisaukan adalah konflik batas wilayah.
Masyarakat Kayaan Mendalam berpendapat jika PT TBS berusaha beroperasi lagi dengan memainkan konflik batas. Tepatnya, antara batas wilayah Masyarakat Kayaan Mendalam dengan Masyarakat Taman Lunsa. Kondisi ini pun rentan menimbulkan pertikaian antar kedua masyarakat tersebut. “Kita ini seolah ingin disabung dengan orang Lunsa,” kata Satar. Untuk mengantisapi hal tersebut, perwakilan masyarakat kedua wilayah tersebut sudah beberapa kali melakukan musyawarah.
Sebagai bentuk perlawan terhadap PT TBS, warga berusaha menyampaikan keresahannya itu kepada pejabat-pejabat daerah. Masyarakat pun sempat beraudiensi dengan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kapuas Hulu, tapi tak mendapatkan jawaban yang pasti akan tuntutan mereka. “Ke DPRD sudah, tapi ada kepastian,” kata Huvaat, warga Kayaan Mendalam. Begitupun saat mereka melakukan aksi ke kantor bupati Kapuas Hulu (22 Juli 2010). Bupati Kapuas Hulu yang saat itu masih dijabat H. Tambul Husein tak dapat ditemui, karena sedang berada di luar daerah. “Kita ingin Bupati membuat surat rekomendasi pencabutan ijin PT Toras kepada menteri,” kata Huvaat.
Perlawanan Masyarakat Kayaan Mendalam terhadap PT TBS, mendapatkan dukungan dari masyarakat-masyarakat dari daerah lainnya. Itu terlihat saat aksi damai di kantor bupati. Berbagai perwakilan warga dari wilayah Lintas Utara dan Selatan Kapuas Hulu turut hadir. Seperti dari Desa Lunsa, Sungai Utik, Sibau, dan desa-desa lain yang mendiami wilayah DAS Mendalam. “Kami ingin bergabung dengan orang Mendalam. Karena tanah dan air ini kan tidak ada batas. Air mereka di sana, air saya juga. Air saya di sini, air mereka juga. Jangan sampai tanah dan air dicuri orang, sehingga kita tidak mendapatkan apa. Kita harapkan pemerintah mencabut ijin PT Toras,” kata Pak Janggut, warga Sungai Utik. Ia pun menegaskan, jika pemerintah tak berpihak kepada masyarakat, jangan salahkan masyarakat jika mengambil cara sendiri untuk mengusir PT TBS. “Jangan sampai hukum rimba kami gunakan lagi,” tegasnya.
Dulu Abang, Kini Adik
Ada yang menarik dari Bupati Kapuas Hulu dalam dua periode ini. Setelah abang, kini adik yang akan menempati jabatan itu.
Berakhir sudah masa kepemimpinan H. Abang Tambul Husein. Setelah dua periode menjabat sebagai Bupati Kapuas Hulu (KH), kini jabatannya beralih ke tangan saudara kandungnya, AM. Natsir. Bersama dengan wakilnya, Agus Mulyana, AM. Natsir akan memimpin KH lima tahun ke depan.
Tanggal 4 Agustus 2010 lalu menjadi hari yang istimewa bagi masyarakat KH. Pada tanggal itu, Bupati dan Wakil Bupati KH periode 2010-2015 resmi dilantik. Dengan dipandu secara langsung oleh Gubernur Kalimantan Barat, Cornelis, AM. Natsir dan Agus Mulyana mengucapkan sumpah dan janji di hadapan Anggota DPRD KH dan tokoh masyarakat. Tak ingin melewatkan kesempatan berharga itu, ratusan masyarakat KH pun turut hadir dalam upacara pelantikan yang digelar di gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah KH.
Dalam upacara pelantikan itu, Cornelis berharap dan mengingatkan kepada Bupati dan Wabup KH yang baru untuk dapat mengemban tugasnya dengan mengutamakan kepentingan masyarakat. “Saya tekankan agar dalam menjalankan tugas lebih memprioritaskan kepentingan masyarakat. Tinggalkan kepentingan politik dan kepentingan pribadi. Utamakan kepentingan Bangsa dan Negara,” ungkap Cornelis seperti dilansir oleh Koran Harian Borneo Tribun.
Dengan resmi dilantiknya Bupati dan Wabup KH tersebut, telah tergores sebuah sejarah baru. Secara bergantian, dua saudara kandung menjadi orang namor satu di Bumi Uncak Kapuas. Jabatan bupati yang sudah dipangku H. Tambul Husein dari tahun 2000-2010, resmi tergantikan dan akan dilanjutkan oleh saudara kandungnnya, AM. Natsir. Natsir pun menjadi bupati yang ke-15 dalam sejarah Kabupaten KH.
AM. Natsir berhak menggantikan kedudukan H. Tambul Husein, setelah bersama Agus Mulayana berhasil memenangani Pemilukada KH yang digelar 19 Mei 2010 lalu. Dengan dukungan dari Partai Golkar, PPP, Partai Hanura, dan Partai Patriot, keduanya mampu mengungguli lima pasangan Bupati dan Wabup lainnya. Dari total 130.545 suara pemilih, 48.414 suara berhasil diraup oleh AM. Natsir dan Agus Mulyana. Jumlah suara itu lebih banyak dari pasangan calon lainnya. H. Baiduri dan Antonius L Ain Pamero (39.254 suara), Drs Y Alexander dan Abang Chairul Saleh (26.496 suara), Drs Kamsidi dan Zainudin (6.000 suara), Syaitul Bahri ST dan Thomas Suka (5.985 suara), serta pasangan Alias Imenuah dan Sugiri (4.400 suara).
Masyarakat Berharap
Lima tahun mendatang nasib masyarakat KH akan sangat tergantung pada AM. Natsir dan Agus Mulayana. Masyarakat begitu berharap agar kebijakan-kebijakan yang diputuskan oleh pemimpinnya dapat berorientasi pada kemaslahatan masyarakat banyak.
“Saya berharap, Kapuas Hulu ke depannya lebih maju dan ada perubahan. Kepentingan masyarakat harus menjadi prioritas,” kata Wahyu Yatim, Warga Kapuas Hulu yang saat ini berdomisili di Pontianak. Meski jarang pulang, tapi ia terus mengikuti perkembangan tanah kelahirannya itu. Ia pun menaruh harapan besar pada bupati dan wabup yang baru dilantik. “Pemimpin yang baru ini harus prorakyat. Jangan sampai hanya mementingkan kepentingan pribadi. Lebih-lebih untuk memperkaya diri sendiri,” katanya kepada KR.
Keinginan masyarakat KH akan perubahan di segala bidang kehidupan memang selalu dirindukan. Satu di antaranya, adanya transparansi dalam pengelolaan pemerintahan. Selama ini masyarakat menganggap kurang dilibatkan dan dimaksimalkan perannya dalam pembangunan daerah, sehingga timbullah sikap acuh dan tidak acuh. “Kinerja yang lebih transparan saja. Biar masyarakat paham dan tahu apa yang dilakukan pemerintah daerahnya,” kata Zikri, mahasiswa asal KH yang kuliah di salah satu perguruan tinggi di Pontianak.
Tak hanya itu, Zikri juga berharap pemimpin baru KH dapat melihat berbagai peluang yang dapat dimanfaatkan untuk memajukan KH. Seperti pengembangan kawasan wisata, seperti Taman Nasional Danau Sentarum. “Kapuas Hulu kan punya cukup banyak objek wisata. Kalau bisa, dimaksimalkan dan lebih gencar lagi promosinya. Jika warga luar tertarik, ini kan bisa menambah pemasukan daerah dan sekaligus membuka lapangan perkerjaan bagi masyarakat,” katanya.
Harapan lain juga datang dari Elias, warga Kota Putussibau. Menurutnya, Bupati dan Wabup baru KH harus dapat konsen memperhatikan berbagai persoalan yang ada di masyarakat. Seperti di bidang pendidikan dan kesehatan masyarakat. “Saya berharap kepada bupati dan wabup baru sebagai pemegang tampuk pemerintahan dan kebijakan di KH, dapat memaksimalkan program-program pokok masyarakat yang sangat vital, yaitu pendidikan dan kesehatan. Pemerintahan harus dapat meyedikan akses pendidikan dan kesehatan yang mudah didapat dan dijangkau masyarakat,” harapnya. Dan hal yang lebih penting, kata Eli, bagaimana Bupati dan Wabup baru dapat mengambil kebijakan yang adil, tanpa mementingkan satu atau dua golongan masyarakat saja. “Kedamaian dan ketentraman masyarakat Kapuas Hulu harus terus dijaga dan dibina,” tambahnya.
Maksi Hajaang
Jumat, 13 Agustus 2010
Eko: CU Angkat Harkat dan Martabat Petani
Seorang lelaki duduk santai. Sebatang rokok menemaninya. Dari wajahnya terpancar rasa lelah. Tapi, ia tetap serius. Dia adalah Eko. Satu di antara peserta Rapat Anggota Tahunan Pleno CU Pancur Kasih yang dilaksanakan di Auditorium Untan, tanggal 23 Februari 2010 lalu. Meski lelah, tapi ia tetap bersedia berbagi cerita kepada KR.
Eko merupakan anggota CU Pancur Kasih TP Sidas. Ia terdaftar sebagai anggota sejak tahun 2009. Menurut ayah tiga anak ini, ia dapat ber-CU karena istrinya, Suastri. “Saya kenal CU karena istri. Istri saya sudah lama menjadi anggota CU,” ungkap pria berumur 36 tahun ini.
CU banyak membantu kaum kecil. Itulah yang dikatakan Eko. Sebagai kepala keluarga yang sehari-harinya bekerja sebagai petani, Eko merasa sangat terbantu setelah bergabung sebagai anggota CU. “CU banyak membantu kaum kecil seperti saya. Setidaknya ekonomi keluarga saya meningkat setelah ber-CU,” kata pria asal Jawa ini. Eko juga menambakan bahwa CU telah memberikan pendidikan dan pengetahuan kepadanya. Khususnya, bagaimana cara mengelola keuangan keluarga yang baik.
Ayah dari Sukamto, Rena, dan Felix ini juga mengungkapkan sisi lain manfaat ber-CU. Baginya, CU telah mampu mengangkat harkat dan martabat para petani, seperti keluarganya. Dengan ber-CU ia semakin bersemangat untuk terus bekerja, menggapai hidup yang lebih layak lagi. “CU telah mengangkat harkat dan martabat para petani, seperti yang dirasakan oleh keluarga saya,” ungkap pria yang sejak tahun 1985 ini merantau ke Kalimantan Barat. Ia juga menambahkan bahwa di dalam CU tidak ada yang dibedakan. Semua anggota mendapatkan pelayanan yang sama. Baik kaya maupun miskin.
Saat ini, tidak hanya Eko dan Istrinya yang terdaftar sebagai anggota CU. Anak sulungnya, Sukamto juga telah ber-CU. Di kemudian hari ia berencana untuk mendaftarkan anak kedua dan ketiganya masuk CU. Oleh karena itu, ia berharap CU dapat terus melayani kaum kecil seperti keluarganya. “Semoga CU lebih baik dan maju. Pelayanan kepada anggota terus ditingkatkan,” harap pria yang sehari-harinya berdomisili di Desa Sungai Lubang ini.